Kontributor: Ayu Rahma Fadila
blokBojonegoro.com - Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 Tahun 2026 di Pondok Pesantren (Ponpes) Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, akhir Agustus mendatang, bertambah syahdu dan menyentuh relung sanubari warga Nahdliyin melalui lagu resminya.
Dikutip dari tambakberas.id, lagu berjudul “Manzhumah Al-‘Audah ilal Ushul”, karya syair berbahasa Arab ber-metrum Bahr Wafir ini sukses memadukan alunan instrumen khas Timur Tengah dengan nuansa kearifan lokal Nusantara.
[Lagu Muktamar NU ke 35 Tambakberas: https://www.youtube.com/watch?v=RVbkvtzjO20&list=RDRVbkvtzjO20&start_radio=1]
Di balik indahnya lantunan lagu yang sarat pesan spiritual tersebut, ada dua sosok pengisi suara utama dari kalangan dzurriyah (keturunan pendiri dan masyayikh), yakni Ning Lia Nikmah Wafira yang akrab disapa Ning Vira dan Ning Majdah.
Bagi Ning Vira, panggilan akrab Lia Nikmah Wafira, terlibat dalam pembawaan theme song Muktamar nasional merupakan momen berharga yang tak ternilai. Ia memandang kesempatan ini sebagai amanah sekaligus kehormatan besar.
[Baca Juga: WISATA DAN KULINER DI BOJONEGORO JAWA TIMUR YA D'KONCO CAFE https://www.blokbojonegoro.com/2026/01/19/wisata-kuliner-di-bojonegoro-jawa-timur-ya-dkonco-cafe-saja]
“Ini adalah amanah dan kebanggaan yang sangat berharga bagi kami. Lagu ini diharapkan menjadi pepiling (pengingat) agar Muktamar melahirkan pemimpin yang amanah, visioner, mandiri, serta terus berpegang pada ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah An-Nahdliyyah,” kata Ning Vira
Ning Vira menambahkan bahwa karya ini hadir sebagai seruan hangat bagi seluruh elemen masyarakat untuk terus merawat tradisi dan membentengi bangsa.
“Mari kita bersama-sama menjaga agama, merawat bangsa, dan meneruskan perjuangan para masyayikh serta pendahulu NU,” tegas Ning Vira.
Perasaan tidak menyangka juga dirasakan oleh Ning Majdah. Dipercaya mengisi vokal pada perhelatan akbar tingkat nasional ini diakuinya sebagai bentuk dedikasi dan bentuk rasa syukur sebagai bagian dari dzurriyah.
“Rasa bahagia dan tidak menyangka bisa dipercaya untuk acara sebesar Muktamar nasional ini. Ini adalah bentuk rasa syukur dan kontribusi kecil kami dari dzurriyah untuk Nahdlatul Ulama,” tambah Ning Majdah.
Meski hasil akhirnya terdengar begitu matang dan megah, proses di balik layar pengerjaannya terbilang sangat cepat. Ning Vira telah mempelajari materi lagu lebih awal, sedangkan Ning Majdah baru menerima serta mempelajari materi tersebut di hari rekaman berlangsung. Namun, profesionalisme dan daya adaptasi yang tinggi membuat proses studio berjalan lancar.
Seluruh proses pengambilan vokal hingga tuntas hanya memakan waktu 1 hingga 2 jam. Salah satu bait kunci dalam Manzhumah Al-‘Audah ilal Ushul melantunkan ungkapan:
“Bi farhatin, bi hamdillah, bi syukrillahi, wa ridwanillah.”
Ungkapan ini bukan sekadar deretan kata Arab yang indah, melainkan manifestasi dari nilai dasar Nahdliyin: melangkah dengan penuh kegembiraan dalam menerima amanah, senantiasa memanjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT, serta menyandarkan segala ikhtiar demi meraih keridaan-Nya.
Lagu resmi ini akhirnya tidak sekadar menjadi pelengkap perhelatan Muktamar NU ke-35. Di dalamnya bertumpuk doa, harapan, dan komitmen spiritual dari Bumi Tambakberas untuk Nahdlatul Ulama dan Indonesia.
“Semoga seluruh rangkaian acara Muktamar berjalan lancar, penuh hikmah, membawa keberkahan, dan mendapat keridaan Allah SWT,” pungkasnya. [ayu/mad]
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published