Skip to main content

Category : Tag: Kolom


Kolom

Membumikan Peran Pemuda

28 Oktober, kita memperingati Hari Sumpah Pemuda (HSP). Tentu, untuk bisa membumikannya setiap saat, peringatannya bukan sekadar simbolis –berhenti di upacara, membuat flyer; tetapi yang terpenting adalah memformulasikan hakikat sumpah pemuda dalam konteks kekinian.

Mas Kawin Berupa Cek: Tergolong Mahar Tunai atau Tidak Tunai?

Pemberitaan yang viral, seorang kakek menikahi seorang gadis di Pacitan, menyisakan satu masalah hukum yang luput disoroti. Yaitu penggunaan mas kawin berupa cek, apakah termasuk mahar yang dibayar tunai atau tidak? Hal ini perlu diungkap karena memiliki konsekuensi hukum, apakah pasangan yang berbeda usia jauh itu boleh berhubungan suami istri atau tidak? Terutama jika istri belum mau diajak berhubungan, maka suami harus menunggu sampai cek itu dicairkan istri.

Kolom

Pesantren dalam Sorotan yang Salah

Suatu malam di lini masa X (Twitter), sebuah tagar mendadak meledak dan menyalip tren hiburan: #BoikotTrans7. Awalnya saya kira cuma tagar biasa -mungkin karena artis salah bicara atau gosip infotainment. Tapi setelah saya telusuri, ternyata ini bukan perkara selebritas, melainkan perkara marwah pesantren. Ya, sebuah program berjudul Xpose Uncensored di Trans7 menampilkan potongan tayangan yang menyinggung Pondok Pesantren Lirboyo dan beberapa pesantren lain.

Kolom

Mengamalkan Pancasila

Memperingati Hari Kesaktian Pancasila, dalam konteks kekinian lima sila yang kita hafal, selanjutnya perlu kita amalkan. Jangan kemudian –mohon maaf, hanya berhenti di peringatan. Atau, sekadar flyer sebagai pengingat. Jika lima sila itu kita amalkan, artinya, ia dekat dengan kita. Ia menjadi diri kita. Menyatu. Sebab, kehadirannya menjadi perilaku diri.

Kolom

Sudahkah Kita Merdeka?

80 tahun sudah Indonesia Merdeka. Merdeka dalam arti bebas dari penjajahan bangsa asing, Belanda, Jepang, Inggris. Namun sudahkah kita merdeka dari bangsa kita sendiri?

Kolom

Koruptor dan UU Perampasan Aset

Suatu hari para koruptor bangun tidur, lalu mendengar berita: “Semua harta hasil korupsi, termasuk yang dititipkan ke keluarga, rekan, atau bahkan dibungkus dalam bentuk rumah mewah dan mobil antik, bisa langsung disita negara.” Apa reaksi mereka? Bisa jadi langsung sakit perut mendadak, bukan karena maag, tapi karena ketakutan akut. Inilah inti kegelisahan para koruptor ketika mendengar soal Undang-Undang Perampasan Aset.

Kolom

Mengajar Cinta: Mengimajinasikan Kehidupan yang Terawat

Love can only be found through the act of loving. Kalimat dari Paulo Coelho itu seperti masih bergema di telinga ketika saya menutup halaman terakhir dari novel By the River Piedra I Sat Down and Wept.

Kolom

Narasi Positif Pejabat Publik

Di tengah riuh rendah demonstrasi yang melanda negeri kita—ketika unjuk rasa bertransformasi menjadi kerusuhan dan masyarakat semakin gerah—peran pejabat publik sangat ditentukan oleh tutur kata dan respons yang mereka berikan. Apakah mereka mampu merajut kembali narasi positif? Atau justru memperkeruh suasana?

Kolom

Santri Digital: Mengaji di Era Swipe dan Scroll

Di sebuah pesantren kecil di kaki Gunung Slamet, selepas subuh para santri berkumpul di serambi masjid dengan kitab kuning terbuka. Mereka mengaji sorogan, menyimak setiap kalimat Arab gundul yang dijelaskan sang kiai dengan penuh kehati-hatian. Tradisi ini berlangsung turun-temurun, sebuah warisan yang lebih tua dari usia republik. Namun ada yang menarik dari wajah-wajah mereka pagi itu: di sela-sela kitab, terselip ponsel pintar.

Kolom

Relevansi Pramuka di Era Koding dan Kecerdasan Buatan

Tahun ini, HUT Pramuka ke-64 terasa istimewa, bukan hanya karena usianya yang matang, tapi juga karena tantangannya yang… ya, bisa dibilang sudah upgrade. Dulu tantangan Pramuka adalah menyalakan api unggun di tengah hujan. Sekarang? Tantangannya mungkin memecahkan bug di tengah deadline, sambil melawan godaan menonton drama Korea episode terakhir.