Kolom
Filosofi Lampu Listrik
Kala mengikuti buka bersama (bukber) teman-teman Direktorat Kelembagaan, Alumni, dan SDM di daleme Wakil Rektor Unugiri, Ustaz Yogi Prana Izza, Jumat (27/02/26), ada hal menarik yang disampaikan beliau.
Kala mengikuti buka bersama (bukber) teman-teman Direktorat Kelembagaan, Alumni, dan SDM di daleme Wakil Rektor Unugiri, Ustaz Yogi Prana Izza, Jumat (27/02/26), ada hal menarik yang disampaikan beliau.
Ada suatu aroma kenangan yang selalu datang bersama Ramadan: suara duar! yang menggema di gang kampung selepas tarawih atau menjelang sahur. Bagi anak-anak kampung seperti aku dulu, petasan bukan sekadar mainan. Ia adalah semacam ritual Ramadan yang mengikat persaudaraan kecil kami, dan menciptakan kenangan yang tak mudah dilupakan. Namun perjalanan tradisi itu tidak selamanya indah; seiring waktu, suara ledakan yang dulu sederhana berubah menjadi ancaman nyata bagi keselamatan dan ketertiban masyarakat.
Pak Darto menatap atap rumahnya yang terbuat dari seng yang mulai berkarat. Matahari menyengat, dan panas seolah menembus seluruh ruang. Di benaknya teringat pidato Presiden Prabowo Subianto beberapa minggu lalu, di mana ia mengenalkan sebuah gagasan baru bernama gentengisasi. Sebuah istilah yang bagi sebagian orang mungkin terdengar sederhana — mengganti atap seng dengan atap genteng — namun bagi banyak warga, gagasan itu sedang mengundang perdebatan dan renungan lebih dalam tentang bagaimana negara mempertimbangkan kesejahteraan rakyatnya.
Hari-hari ini sedang viral pernyataan Prof. Dr. Kamaruddin Amin, MA, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, bahwa Kementerian Agama mendapatkan beban dalam menganggarkan kesejahteraan guru dalam pengangkatan guru yang dilakukan oleh Yayasan dan tidak melakukan koordinasi dengan Kemenag pada levelnya masing-masing. Prof. Kamaruddin menyatakan: “banyak guru yang diangkat oleh Yayasan tanpa sepengetahuan Kemenag, kemudian minta dibayar dan jumlahnya terus bertambah, tanpa ada koordinasi dengan Kemenag.”
Siang itu, beberapa hari menjelang Ramadan, kampung saya mulai ramai bukan karena pasar murah atau baliho diskon sirup, tetapi karena aroma apem, kolak, dan nasi berkat yang mengepul dari dapur-dapur. Ibu-ibu sibuk menata tampah, bapak-bapak menenteng rantang, anak-anak mondar-mandir sambil mencicipi “jatah bocoran.” Di kalender, hari itu belum puasa. Tetapi di rasa, kami sudah sedang mempersiapkan diri. Orang Jawa menyebutnya ruwahan atau megengan—sebuah tradisi menyambut Ramadan dengan doa, berbagi, dan menata batin.
Pagi itu, saya melihat seorang ibu di sudut desa menyiapkan sarapan. Kompornya sederhana, panci kecil di atas tungku. Ia merebus daun kelor, menggoreng tempe, dan menanak nasi. Anaknya duduk di lantai, memainkan tutup botol sambil sesekali menengok ke dapur. Dari luar, pemandangan itu tampak biasa saja. Tapi sebenarnya, di dapur kecil itulah masa depan seorang anak sedang dimasak.
Pertanyaan ini, relevan sekali untuk konteks kini. Coba kita amati, siapa saja di keluarga kita yang istikamah belajar –dalam hal ini membaca, saat malam hari tiba. Ayah, ibu, kakak, adik, hingga nenek, siapa dari mereka yang masih membuka buku setiap hari terlebih hatam!
Ada satu momen dalam hidup beragama yang seharusnya kita jaga betul-betul: saat simbol, ruang, dan suasana sakral sedang bekerja membentuk kesadaran kita. Isra Mikraj bukan sekadar agenda tahunan yang kita lewati sambil lalu. Ia adalah peristiwa spiritual—tentang perjalanan Nabi Muhammad SAW menembus batas ruang dan waktu, tentang shalat sebagai “oleh-oleh langit”, dan tentang disiplin ruhani yang mestinya meresap sampai ke cara kita bersikap di bumi.
Tahun 2025, Pengadilan Agama Bojonegoro mencatat 325 perkara dispensasi kawin. Dari jumlah itu, 184 perkara diajukan dengan alasan yang sama: menghindari zina. Alasan ini mengungguli kehamilan maupun pengakuan sudah melakukan zina. Sebuah pola baru. Sekaligus tanda bahaya.
Di satu sore yang lengang, seorang remaja tampak duduk bersila di lantai, laptop terbuka, earphone menempel rapat. Di layar, bukan drama Korea atau gim daring, melainkan video bertajuk “Fisika dalam 10 Menit”. Pemandangan semacam ini kini jamak kita temui. Generasi Z—yang kerap dicap mager, terlalu akrab dengan gawai, dan malas membaca buku—ternyata sedang belajar. Caranya saja yang berbeda. Mereka belajar dari YouTube.