Oleh: Choirul Anam*
blokBojonegoro.com - Ada sebuah ucapan bijak yang sering terdengar di ruang-ruang pendidikan: “Mengajar adalah belajar dua kali.” Ucapan ini bukan sekadar slogan manis untuk poster Hari Guru. Ia mengandung hikmah mendalam—bahwa guru yang baik bukanlah mereka yang merasa paling tahu, melainkan yang paling haus untuk terus belajar. Apalagi di era digital seperti sekarang, ketika informasi berlari lebih cepat daripada nasihat “kerjakan PR-mu sebelum tidur”.
Kita hidup pada masa di mana anak-anak lebih akrab dengan layar sentuh daripada halaman buku, lebih percaya pada Google daripada guru, dan mampu menemukan jawaban matematika hanya dengan memotret soal pakai aplikasi. Jika guru berhenti belajar, ia akan tertinggal bukan selangkah—melainkan satu galaksi. Maka lahirlah konsep “guru pembelajar”: sosok pendidik yang tidak pernah menganggap dirinya selesai.
Dari Papan Tulis ke Papan Digital
Jika dulu guru adalah sumber utama pengetahuan, di era digital fungsi itu bergeser. George Siemens (2005) menyebut konsep connectivism, bahwa belajar kini terjadi melalui jaringan, kolaborasi, dan akses informasi yang tak terbatas. Guru bukan lagi satu-satunya transmitter ilmu, melainkan navigator yang membimbing siswa memilah pengetahuan yang berserakan.
Guru ideal bukan yang memaksa siswa menghapal semua, tetapi yang membekali mereka cara berpikir kritis: menentukan mana informasi sahih, mana hoaks berkedok konten viral. Guru menjadi “kuratorkonten” yang menjaga murid tidak tenggelam dalam banjir informasi digital.
Di kelas-kelas terbaik hari ini, kita tidak hanya melihat spidol dan papan tulis, tetapi juga aplikasi belajar, platform video, simulasi interaktif, hingga AI yang membantu asesmen. Guru ideal memanfaatkan teknologi sebagai perpanjangan tangan pendidikan, bukan ancaman yang ditolak mentah-mentah.
Guru sebagai Pembelajar Seumur Hidup
Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed mengkritik praktik pendidikan “banking”, di mana guru hanya mengisi otak siswa seperti menabung di bank. Era digital menuntut perubahan itu. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga belajar cara mengajar yang baru.
Belajar bagaimana menggunakan LMS.
Belajar bagaimana mengelola kelas virtual.
Belajar bagaimana memahami psikologi murid yang juga berubah karena digitalisasi.
Di sinilah hakikat “mengajar adalah belajar” menemukan bentuknya. Ketika guru menyiapkan materi, ia belajar. Ketika mengatasi murid yang kesulitan, ia belajar empati. Ketika ditanya murid tentang hal yang ia sendiri belum tahu, ia belajar kerendahan hati.
Guru ideal menyadari: murid bisa jadi lebih cepat memahami teknologi, tapi guru punya kebijaksanaan yang tak diberikan algoritma mana pun—pengalaman hidup, nilai moral, dan teladan.
Era Digital: Peluang atau Ancaman?
Teknologi bisa mempermudah, tapi juga bisa memarjinalkan guru. Ada yang khawatir, “Jangan-jangan suatu saat guru tergantikan AI.” Namun, UNESCO menegaskan bahwa pendidikan abad-21 bukan hanya soal kognitif, tapi juga karakter—dan guru adalah figur yang paling mungkin menghadirkan teladan manusiawi.
AI bisa menyampaikan rumus fisika.
Tetapi AI tidak bisa menenangkan murid yang cemas menghadapi ujian.
AI bisa menjelaskan konsep ekonomi.
Tetapi AI tidak bisa menatap mata murid dan berkata, “Aku percaya kamu bisa.”
Teknologi bukan untuk mengganti guru, tetapi untuk menguatkan guru. Maka, guru ideal bukan yang menolak teknologi, tetapi yang mengendalikan teknologi untuk tujuan kemanusiaan.
Guru yang Menginspirasi: Lebih dari Sekadar Pekerjaan
Menjadi guru bukan profesi yang kaya pujian. Di Indonesia, guru masih sering menghadapi keterbatasan fasilitas, beban administrasi yang menumpuk, dan apresiasi yang kadang minim. Namun, mereka tetap hadir setiap pagi, membawa semangat membangun masa depan.
Mengajar adalah kerja peradaban.
Mengajar adalah ibadah.
Mengajar adalah cinta yang diwujudkan dalam kesabaran.
Konfusius pernah berpesan: “If you plan for 100 years, educate people.” Artinya, pembangunan sesungguhnya dimulai dari ruang kelas—dan pahlawannya adalah guru.
Apa saja ciri guru ideal era digital?
1) Pembelajar berkelanjutan: selalu memperbarui kompetensi. 2) Fasilitator berpikir kritis, bukan sekadar pemberi jawaban. 3) Melek digital: memanfaatkan teknologi untuk pembelajaran. 4. Empatik dan inklusif: memahami keberagaman karakter murid. 5) Teladan akhlak dan profesionalitas. 6) Kolaboratif, tidak berjalan sendirian. 7) Mampu menumbuhkan motivasi belajar intrinsik siswa.
Guru ideal bukan berarti sempurna. Tetapi ia terus berusaha menjadi lebih baik setiap hari—lebih sabar, lebih kreatif, lebih peka pada kebutuhan murid.
Pada Hari Guru ini, kita tidak hanya mengucapkan “Terima kasih, guru,” tetapi juga merenungkan bagaimana membantu mereka menjadi pembelajar sejati. Pemerintah harus mendukung melalui pelatihan berkelanjutan, kebijakan yang memudahkan inovasi, dan kesejahteraan yang layak. Orang tua harus berkolaborasi, bukan membebankan semua pada sekolah. Masyarakat harus mengakui bahwa guru adalah pilar masa depan bangsa.
Sebab ketika guru berhenti belajar, generasi berhenti maju.
Dan ketika guru terus belajar, Indonesia terus melangkah.
Selamat Hari Guru. Teruslah menjadi lentera yang tak padam—karena pendidikan adalah cahaya, dan guru adalah penjaganya.
*Ketua PAC Ansor Balen
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published