Oleh: Choirul Anam*
blokBojonegoro.com - Pernahkah Anda merasa waktu seperti satpam galak yang terus mengawasi, tak pernah berhenti barang sedetik pun? Atau justru seperti kekasih yang menuntut perhatian penuh? Iwan Fals dalam salah satu lagu legendarisnya mengajak kita “bersetubuh dengan waktu”—menggarisbawahi bahwa hubungan kita dengan waktu bukan sekadar persinggungan, tapi pertemuan yang amat intim. Bukan sekadar hidup berdampingan, tapi benar-benar menyelaminya.
Tentu, frasa itu metaforis. Tidak ada unsur erotis yang perlu dikhawatirkan. Yang dimaksud adalah bagaimana kita bermesraan dengan setiap detik yang hadir: menikmati, memahami, bahkan bergulat dengan waktu agar menghasilkan hidup yang bermakna.
Kita kadang hidup seperti menunggu: menunggu liburan, menunggu gajian, menunggu hari baik, menunggu kapan siap. Padahal waktu tak pernah menunggu kita kembali siap. Heraclitus, seorang filsuf Yunani Kuno, pernah berkata, “You cannot step into the same river twice.” Sungai yang kita masuki berubah, begitu juga kita. Waktu berjalan terus, sementara kita sering sibuk menunda.
Iwan Fals mengingatkan: daripada hanya menjadi penonton jarum jam, kita mesti masuk ke gelanggang, menari bersama waktu. Kita harus mengelolanya, bukan malah jadi korban yang pasrah.
Banyak motivator berkata: “Jangan buang waktu! Waktu adalah uang!” Tapi kalau waktu cuma disamakan dengan uang, hidup bisa lekas menyesakkan. Karena kalau uang habis, bisa dicari lagi. Kalau waktu habis? Cuma bisa disesali.
Di sinilah bersetubuh dengan waktu mengambil makna yang lebih arif. Bukan bekerja seperti robot siang-malam hingga lupa tidur. Bukan pula setiap menit harus menghasilkan cuan. Psikolog Mihaly Csikszentmihalyi memperkenalkan konsep flow—keadaan ketika kita begitu menyatu dengan aktivitas, sampai lupa waktu, tapi justru merasakan keterpenuhan. Inilah yang dekat dengan “bersetubuh dengan waktu”: penuh kesadaran, penuh keterlibatan.
Kerja yang bermakna. Istirahat yang bermakna. Hidup yang bermakna.
Masalah kita bukan kekurangan waktu, tapi kebanyakan alasan. Ada ungkapan populer:
“Jika sesuatu itu penting, kamu akan mencari cara. Jika tidak, kamu akan mencari alasan.”
Stephen R. Covey—penulis The 7 Habits of Highly Effective People—mengajarkan pentingnya First Things First: mendahulukan yang penting, bukan sekadar mendahulukan yang mendesak. Karena yang mendesak sering bersuara paling keras, sementara yang penting bersuara pelan—misalnya keluarga, kesehatan, belajar, berdoa, atau kualitas hidup.
Maka bersetubuh dengan waktu adalah menyentuh bagian hidup yang benar-benar berarti. Bukan hanya sibuk di luar, tapi hampa di dalam.
Hubungan yang intim butuh kompromi. Termasuk hubungan kita dengan waktu. Kita tidak selalu bisa menuntut semua sesuai kehendak: ingin sukses cepat, ingin bahagia tanpa luka, ingin tua tanpa menua.
Waktu kadang keras kepadaku—begitu kata Iwan Fals. Tapi justru dari kekerasannya kita memahami kelembutan hidup.
Setiap penyesalan yang terlambat hadir, setiap rencana yang gagal, setiap kehilangan yang tak bisa ditarik kembali—semua adalah guru tanpa suara. Paulo Coelho bilang, “Waktu tak pernah membuat janji apa pun. Tapi ia selalu memberi kesempatan baru.”
Selama masih bangun pagi, berarti waktu belum menyerah pada kita.
Fenomena slow living berkembang sebagai protes terhadap hidup serba terburu-buru. Ada yang mulai bercocok tanam di halaman rumah. Ada yang rutin menyeduh kopi secara manual setiap pagi. Ada yang memilih jalan kaki meski punya motor di garasi. Lama? Iya. Tapi hati ikut hadir.
Inilah bersetubuh dengan waktu dalam versi paling lembut: hadir sepenuhnya.
Bukan sekadar cepat. Bukan pula lambat. Tapi cukup.
Dalam lirik lagu Iwan Fals, waktu digambarkan sebagai sesuatu yang begitu dekat dengan kita. Ia melekat dalam napas, denyut nadi, bahkan helaan resah kita setiap malam. Ia menegur tanpa suara, memeluk tanpa tangan, tapi selalu ada.
Maka bersetubuh dengan waktu adalah proses menjadi manusia yang sungguh-sungguh hidup. Bukan hanya bergerak, tapi bertumbuh. Bukan hanya memenuhi agenda, tapi memenuhi jiwa.
Waktu tidak menunggu kita mencinta.
Maka cintailah waktu hari ini.
Sebelum ia pergi tanpa pamit.
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published