Gen Z dan Revolusi Cara Belajar
Choirul Anam

Oleh: Choirul Anam*

blokBojonegoro.com - Di satu sore yang lengang, seorang remaja tampak duduk bersila di lantai, laptop terbuka, earphone menempel rapat. Di layar, bukan drama Korea atau gim daring, melainkan video bertajuk “Fisika dalam 10 Menit”. Pemandangan semacam ini kini jamak kita temui. Generasi Z—yang kerap dicap mager, terlalu akrab dengan gawai, dan malas membaca buku—ternyata sedang belajar. Caranya saja yang berbeda. Mereka belajar dari YouTube.

Bagi sebagian orang tua dan guru, YouTube sering dianggap biang distraksi. Platform hiburan yang membuat anak lupa waktu. Namun bagi Gen Z, YouTube justru menjelma ruang belajar alternatif yang terasa lebih masuk akal. Bukan karena mereka anti-sekolah, melainkan karena mereka hidup di zaman yang menuntut cara belajar yang relevan dengan ritme hidupnya.

Gen Z tumbuh dalam dunia serba visual. Mereka terbiasa memahami sesuatu lewat gambar bergerak, ilustrasi, dan simulasi. Maka wajar jika belajar “harus kelihatan, bukan sekadar dijelaskan”. Konsep yang rumit—dari matematika, fisika, hingga ekonomi—lebih mudah dipahami ketika disajikan lewat animasi, eksperimen sederhana, atau contoh konkret yang bisa langsung dilihat. YouTube menyediakan itu semua, sering kali dengan bahasa yang lebih membumi dibanding buku teks.

Keunggulan lain YouTube adalah ritme belajar yang bebas. Di ruang kelas, semua siswa bergerak dengan kecepatan yang sama. Di YouTube, Gen Z bisa mem-pause, mengulang, atau mempercepat video sesuai kebutuhan. Tak paham? Ulangi. Ketinggalan? Putar lagi. Tak ada rasa malu karena tertinggal, tak ada tekanan harus langsung mengerti. Belajar menjadi proses personal, bukan lomba.

YouTube juga membuat Gen Z lebih cepat menangkap tren dan perkembangan zaman. Dunia bergerak cepat, dan kurikulum formal sering tertinggal satu langkah. Di YouTube, tutorial tentang kecerdasan buatan, desain grafis, public speaking, bahkan literasi keuangan bisa diakses nyaris real-time. Ini menjadikan YouTube bukan sekadar pelengkap, tetapi jendela agar mereka tak tertinggal arus perubahan.

Soal bahasa, Gen Z punya preferensi sendiri. Mereka lebih nyaman dengan bahasa santai, storytelling, dan contoh yang dekat dengan keseharian. Banyak kreator edukasi memahami ini. Mereka tidak menggurui, tapi mengajak. Tidak kaku, tapi komunikatif. Alhasil, belajar terasa seperti ngobrol—ringan, tapi tetap berisi. Di titik ini, YouTube menang karena mampu menjembatani ilmu dengan rasa.

Menariknya, proses belajar di YouTube tidak berhenti di video. Kolom komentar sering berubah menjadi “kelas tambahan”. Di sana ada diskusi, tanya jawab, koreksi, bahkan debat sehat. Interaksi ini membuat belajar menjadi sosial dan partisipatif. Gen Z tidak hanya menjadi konsumen pengetahuan, tetapi juga bagian dari komunitas belajar. Sesuatu yang kadang luput di ruang kelas konvensional.

Ada pula sisi praktik yang kuat. Banyak Gen Z belajar langsung dari orang-orang yang terjun di lapangan: fotografer profesional, petani urban, programmer otodidak, hingga pelaku UMKM. Mereka berbagi pengalaman nyata, bukan sekadar teori. Bagi Gen Z yang cenderung pragmatis, ini terasa lebih relevan. Belajar bukan untuk ujian semata, tetapi untuk hidup.

Namun penting dicatat: belajar dari YouTube bukan berarti menolak sekolah. Ini bukan perlawanan, melainkan penyesuaian. Sekolah tetap penting sebagai ruang pembentukan karakter, etika, dan kerangka berpikir sistematis. YouTube hadir sebagai pelengkap—bahkan penyeimbang—ketika sistem formal belum sepenuhnya adaptif terhadap perubahan zaman.

Tantangannya tentu ada. Tidak semua konten YouTube akurat. Algoritma bisa menjerumuskan ke informasi keliru. Karena itu, literasi digital menjadi kunci. Gen Z perlu dibekali kemampuan memilah sumber, berpikir kritis, dan tidak menelan mentah-mentah apa yang ditonton. Di sinilah peran orang tua dan guru bukan melarang, tetapi mendampingi.

Jika ditarik lebih jauh, fenomena ini menunjukkan satu hal penting: Gen Z bukan generasi malas belajar. Mereka hanya memilih cara belajar yang paling masuk akal bagi dunia yang mereka hidupi. Dunia yang cepat, visual, interaktif, dan cair. Menyalahkan YouTube sama saja menutup mata dari realitas zaman.

Barangkali, yang perlu kita lakukan bukan bertanya, “Kenapa anak sekarang belajarnya dari YouTube?” melainkan, “Apa yang bisa kita pelajari dari cara mereka belajar?” Karena bisa jadi, di balik layar gawai itu, sedang tumbuh generasi pembelajar mandiri—yang tidak mager, tapi adaptif.

Pada akhirnya, belajar bukan soal tempat, melainkan proses. Dan bagi Gen Z, YouTube hanyalah salah satu jalan—yang kebetulan terasa lebih terang, lebih dekat, dan lebih masuk akal. [mu]

*Ketua PAC Ansor Balen