Kolom
Sudahkah Kita Merdeka?
80 tahun sudah Indonesia Merdeka. Merdeka dalam arti bebas dari penjajahan bangsa asing, Belanda, Jepang, Inggris. Namun sudahkah kita merdeka dari bangsa kita sendiri?
80 tahun sudah Indonesia Merdeka. Merdeka dalam arti bebas dari penjajahan bangsa asing, Belanda, Jepang, Inggris. Namun sudahkah kita merdeka dari bangsa kita sendiri?
Suatu hari para koruptor bangun tidur, lalu mendengar berita: “Semua harta hasil korupsi, termasuk yang dititipkan ke keluarga, rekan, atau bahkan dibungkus dalam bentuk rumah mewah dan mobil antik, bisa langsung disita negara.†Apa reaksi mereka? Bisa jadi langsung sakit perut mendadak, bukan karena maag, tapi karena ketakutan akut. Inilah inti kegelisahan para koruptor ketika mendengar soal Undang-Undang Perampasan Aset.
Love can only be found through the act of loving. Kalimat dari Paulo Coelho itu seperti masih bergema di telinga ketika saya menutup halaman terakhir dari novel By the River Piedra I Sat Down and Wept.
Di tengah riuh rendah demonstrasi yang melanda negeri kita—ketika unjuk rasa bertransformasi menjadi kerusuhan dan masyarakat semakin gerah—peran pejabat publik sangat ditentukan oleh tutur kata dan respons yang mereka berikan. Apakah mereka mampu merajut kembali narasi positif? Atau justru memperkeruh suasana?
Di sebuah pesantren kecil di kaki Gunung Slamet, selepas subuh para santri berkumpul di serambi masjid dengan kitab kuning terbuka. Mereka mengaji sorogan, menyimak setiap kalimat Arab gundul yang dijelaskan sang kiai dengan penuh kehati-hatian. Tradisi ini berlangsung turun-temurun, sebuah warisan yang lebih tua dari usia republik. Namun ada yang menarik dari wajah-wajah mereka pagi itu: di sela-sela kitab, terselip ponsel pintar.
Tahun ini, HUT Pramuka ke-64 terasa istimewa, bukan hanya karena usianya yang matang, tapi juga karena tantangannya yang… ya, bisa dibilang sudah upgrade. Dulu tantangan Pramuka adalah menyalakan api unggun di tengah hujan. Sekarang? Tantangannya mungkin memecahkan bug di tengah deadline, sambil melawan godaan menonton drama Korea episode terakhir.
Ada yang menarik ketika penulis tiba di Satlantas Polres Bojonegoro, Selasa (12/8/25). Tepatnya, saat antri untuk giliran sesi foto perpanjangan SIM A, di ruang tunggu Satuan Penyelenggara Administrasi (Satpas).
Negara adil makmur, yang sering diistilahkan dengan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, juga impian yang terus dikhtiarkan menjadi kenyataan. “Gemah ripah loh jinawi, toto, titi tentrem kerto raharjoâ€, menjadi cita-cita nenek moyang sebagai the founding fathers negeri dengan penduduk 285 juta ini.
“Pendidikan tanpa moralitas hanya akan melahirkan orang-orang pintar yang tak tahu arah.â€
Selamat dilantik pengurus PC Nahdlatul Ulama, PC GP Ansor, PC Fatayat NU, PC IPNU dan IPPNU Kabupaten Bojonegoro Minggu (3/8/2025) dalam pagelaran NU Fest 2025 di Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI) Bojonegoro.