19:00 . Jokowi-Amin Menang 67 Persen di Bojonegoro   |   18:00 . Meski Surat Suara Tertukar, KPU Mengklaim Tidak Ada PSU   |   17:00 . Evakuasi Korban, Jalan Raya Macet Cukup Panjang   |   16:00 . Avanza Vs Truk di Margomulyo, 2 Mobil Ringsek   |   15:00 . Triwulan Pertama, Ada 850 Klaim Asuransi ke Jasa Raharja   |   14:00 . SMPN 1 Kapas Kembali Rebut Juara Pencak Silat O2SN   |   12:00 . Saat Pemungutan Suara, Tiga TPS Surat Suaranya Tertukar   |   09:00 . Panitia Gandeng Mahasiswa dan Komunitas, Ini Alasannya?   |   08:00 . Rayakan Hari Jadi, AMSI Gelar Kontes Jurnalistik dan Seminar Anti Hoax   |   07:00 . Kurang Percaya Diri dalam Memimpin? Pastikan Anda Menerapkan 5 Hal Ini   |   22:00 . Akses Menuju 5 TPS di Bojonegoro Putus Akibat Banjir Bandang   |   21:30 . [Cek Fakta] Nenek Bawa Surat Undangan Kenduri ke TPS di Bojonegoro   |   20:00 . Libur Nasional, Pengunjung WWG Meningkat   |   19:00 . Pelaku Serangan Fajar Ditangkap   |   18:30 . Unik.....! TPS Ini Bernuansa Piala Dunia   |  
Thu, 18 April 2019
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Saturday, 01 December 2018 12:00

NU dan Pertanian

NU dan Pertanian

Penulis : Iskak Riyanto*

Mata pencarian penduduk Kabupaten Bojonegoro mayoritas sebagai petani. Mayoritas dari mereka diyakini petani NU, karena mayoritas penduduk Kabupaten Bojonegoro pengikut ormas yang didirikan oleh mbah Hasyim Asy'ari ini. Petani yang saya maksud disini, adalah petani yang mengelola tanaman pangan atau hortikultura. Bukan petani yang mengelola hewan dan ikan.

Sebab, sebenarnya namanya petani itu adalah seseorang yang mengelola tanaman, hewan dan ikan agar mendapatkan hasil yang maksimal. NU sebagai ormas terbesar  di Kabupaten Bojonegoro (di Indonesia juga pastinya), sudah tidak diragukan lagi perannya dalam ikut membangun negara. Banyak lembaga pendidikan yang didirikan mulai PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) sampai PT (Perguruan Tinggi) dan pondok pesantren. Serta dibidang kesehatan rumah sakit punya dan bidang ekonomi seperti BMT, NU Mart komplet dimiliki NU. Termasuk kegiatan keagamaan yang tidak ada matinya seperti pengajian, tahlilan, yasinan, diba'an, manakiban dan lain-lain.

Tetapi kalau kita perhatikan dengan seksama dibidang pertanian NU belum menggarapnya. Padahal petani NU ini merupakan aset dan potensinya luar biasa. Belum lagi petani disebut-sebut penyangga ekonomi perdesaan menjadi nilai plus, yang tidak bisa diabaikan begitu saja perananya. Mereka (petani) juga penyedia makan bagi kita semua. Sebab beras, sayuran, buah-buahan yang kita konsumsi tiap setiap hari buah tangan para petani.

Dengan banyaknya manfaat petani, tapi belum banyak dilirik kalangan Nahdliyin terutama pemuda NU. Belum lagi ironisnya banyak petani yang hidup masih dalam kekurangan secara ekonomi. Hal ini dipengarui beberapa faktor diantaranya kepemilikan lahan yang terbatas dan SDM (Sumber Daya Manusia) petani yang rendah. Diketahui dari survey IPB, petani yang bertani dengan baik dan benar hanya 10 persen. Rata-rata mereka mempunyai garapan seluas 0,25 hektar, hasil panen seluas itu tidak bisa untuk biaya hidup mereka bila tidak mempunyai pekerjaan sampingan.

Apalagi kalau tanamanya terserang Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), seperti hama dan penyakit atau tertimpa banjir dan kekeringan. Belum lagi kemungkinan tanaman terkena puso mereka bakal 'PUASA' selama empat bulan untuk menunggu waktu bercocok tanam lagi. Sehingga petani harus lagi-lagi menunggu dengan harap-harap cemas, apakah mereka bisa panen lagi. Memang akhir-akhir ini serangan OPT banyak menyerang tanamanya.

Sehingga berdampak pada kesuburan tanah yang menurun dan dipastikan menurunkan hasil panen mereka. Luar biasa kendala dan tantangan petani saat ini. Kesalehan sosial juga ikut teruji. Saatnya membayar zakat misalnya mereka abaikan. Katanya hasil panen selalu menurun, sementara biaya proses pengolahan sawah sampai perawatan tanaman membutuhkan biaya produksi semakin naik.

Belum lagi persoalan harga pupuk, pestisida mahal. Ada lagi kendala mencari tenaga kerja sulit, kalaupun ada mereka meminta ongkos yang lumayan tinggi, sehingga saat panen hasilnya 'Pokpek' (tidak untuk-tidak rugi pokoknya, panen yang ditunggu hanya "nganyarno duwek" (pembaruan uang), buat bayar hutang saja tidak cukup.

Lebih ironis lagi mereka yang menanam padi, tetapi mereka  beli beras untuk dikonsumsi sehari-hari. Ritual panen yang ditunggu-tunggu hanya dapat dirasakan sesaat. Sebab begitu menjadi gabah langsung dijual kepada tengkulak. Bahkan ketika padi masih berdiri di sawah sudah dicarikan pemborong atau pembeli.

Untuk itu NU harus ikut 'MEMBELA' petani yang juga mendapat sebutan pahlawan pangan ini. Bisa lewat pemberdayaan atau pendampingan untuk meningkatkan SDM mereka. Sebenarnya Kementerian Pertanian sudah bekerja keras untuk mensejahterakan petani, karenan memang tugas pemerintah untuk hadir. Tetapi sebenarnya lagi semua individu juga diberi hak untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial seperti yang dihadapi petani ini, termasuk NU.

Terus pertanyaanya bagaimana cara  NU 'MEMBELA' petani?

NU punya LPPNU dan ISNU yang membidangi pertanian. Sebagai sayap NU ini yang harus mulai digerakan untuk koordinasi awal dibentuk penggurus LPPNU di tingkat MWC (Majlis Wakil Cabang) NU (kepengurusan di kecamatan) sampai PR (Pengurus Ranting) NU (kepengurusan di desa) dan termasuk kepengurusan ISNU berada di paling bawah (setiap desa) itu.

Melalui struktural yang sistematis dari atas sampai bawah itu, selanjutnya kita adakan pemberdayaan dan pendampingan dengan penyuluhan, pelatihan, demplot, dem area dan lain-lain. Tetapi jika pendanaan menjadi kendala, sebenarnya bisa dibahas belakang dan yang terpenting ada kemauan merubah petani menjadi sukses ke depannya.

Untuk peningkatan SDM petani lewat penyuluhan pertanian bisa dilakukan lewat jama'ah-jama'ah tahlil atau lainya. Dampingi mereka dalam berusaha tani dan jangan biarkan mereka sendirian mengendalikan OPT. Terasuk menemani mereka dalam menghadapi kendala. Dikuatkan dengan pelatihan intensif bisa dilakukan di tingkat MWC NU atau PRNU. Sehingga kalau para pahlawan pangan itu sering berkumpul pasti nanti ada  usulan, harapan, keingginan untuk bersama-sama memajukan NU secara umum dan pertanian kususnya.

Sebuah angan-angan yang terlalu tinggi sepertinya. Tidak juga...! Asal kita semua bahu membahu mewujudkanya. Kita mulai sekarang...ya sekarang ini.

Balenrejo 30 November 2018.

*Penulis adalah Sekretaris PC LPP NU dan pengurus PC ISNU seksi pertanian Kabupaten Bojonegoro

Tag : nu, pertanian, bojonegoro

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

  • Wednesday, 27 March 2019 21:00

    Petani di Balen Mulai Panen Kelengkeng

    Petani di Balen Mulai Panen Kelengkeng Seorang petani di Desa Kedungdowo, Kecamatan Balen, Abdul Mukarom merasa senang karena pohon Lengkeng yang ia tanam dua tahun yang lalu sekarang ini buahnya sudah bisa dinikmati. Setelah empat pohon...

    read more

Lowongan Kerja & Iklan Hemat

  • Tuesday, 16 April 2019 09:00

    Hilang STNK NoPol S-3761-DJ

    Hilang STNK NoPol S-3761-DJ Telah hilang Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK): No.Pol: S-3761-DJ Merk/Type: HONDA Warna: Hitam Tahaun pembuatan: 2012 Nomor Rangka: MH1JB8110CK809201 Nomor Mesin: JB81E1806215 Atas Nama: DASINAH Alamat: Dusun Kawis RT.01/RW.02 Desa Geger Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur....

    read more