08:00 . BPKAD: Pemkab Transparan Kelola Keuangan   |   07:00 . Membiarkan Balita Bilang 'Enggak Mau' Ternyata Ada Manfaatnya   |   21:00 . Selamat Jalan Dek Kamila   |   19:00 . Bangunan Misterius Muncul di Bengawan Solo   |   16:00 . Wisata Kracakan Niagara Mini dan Rajut yang Tembus Amerika   |   15:00 . Polsek Kota dan Dishub Gelar Pembinaan Bagi Operator Perahu   |   14:00 . Pemerintah Tetap Pakai Skema Bagi Hasil Gross Split di Sektor Migas   |   13:00 . PMII Desak Bupati Jelaskan Uang Rakyat yang Didepositokan Rp2,9 T   |   12:00 . Aksi Mahasiswa Bojonegoro Soroti Silpa Tahun 2018   |   10:00 . DPRD Datangi Rumah Korban Dugaan Malpraktik RSUD Bojonegoro   |   08:00 . 100 Perempuan Bojonegoro Dilatih Menjadi Perajut   |   07:00 . Cerita Drama Tangisan Anak, Agar Keinginannya Terpenuhi   |   22:00 . Sambut Milad, Rumah Sakit Aisyiyah Gelar Lomba Tahfidz   |   21:00 . Pemdes dan Kelompok Tani Ngadiluhur Balen Kendalikan Tikus   |   20:00 . Kurangi Pengangguran, Disperinaker Buka Job Fair 2019 Selama Dua Hari   |  
Fri, 15 November 2019
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Thursday, 04 April 2019 13:00

Para Pesinden ini Masih Eksis Pertahankan Tayub di Bojonegoro

Para Pesinden ini Masih Eksis Pertahankan Tayub di Bojonegoro

Reporter :  Joel Joko

blokBojonegoro.com -  Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur menggelar "Workshop Kesenian Tayub di Bojonegoro", Kamis (4/4/2019) tadi. Sejumlah pesinden ikut meramaikan workshop. Mereka masih bertahan dan terus melestarikan kesenian tayub sebagai warisan budaya Jawa.

Tiga pesinden tayub bersuara merdu yang tampil meramaikan workshop antara lain Yasmi (Bubulan), Elly (Kalitidu) dan Endah (Ngasem). Mereka sudah cukup lama menekuni pekerjaan sebagai sinden sejak 1996 sampai sekarang.

Yasmi, mengungkapkan sudah menjadi panggilan hati untuk melestarikan seni dan tradisi. Apalagi, saat ini kesenian tradisional semakin tersisih oleh perubahan zaman yang modern. Meski begitu, pemerintah harus segera turun tangan untuk melestarikannya.

"Sekarang generasi muda sudah jarang mau menekuni karawitan maupun kesenian tayub," kata Yasmi.

Sementara budayawan Jatim, Sukatmo mengungkapkan tayub merupakan tari pergaulan yang disajikan untuk menjalin hubungan sosial masyarakat. Sebab, pagelaran seni ini biasanya digelar pada saat acara seperti sedekah bumi atau hajatan.

"Untuk bisa menjadi bagian kesenian Langen Tayub ini ternyata juga tidak mudah, karena memerlukan kemampuan dan kemahiran tersendiri," ungkap Katmo.

Dalam satu kelompok tayub selalu terdapat sinden, penata gamelan, serta penari wanita atau biasa disebut waranggono, dan seorang pramugari yang memimpin jalannya pagelaran tayub.

Data yang dihimpun blokBojonegoro.com di Kabupaten Bojonegoro masih terdapat 28 kelompok karawitan yang biasa mengiringi jalannya tari langen tayub. Untuk pramugari atau pemandu jalannya tayuban ada 28 orang jumlahnya. Sedangkan untuk penari wanita atau biasa dikenal dengan Waranggono berjumlah sekitar 55 orang yang tersebar di beberapa kecamatan yang ada di Bojonegoro.[oel/ito]

Tag : Disbudpar, tayub, bojonegoro, budaya

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

Lowongan Kerja & Iklan Hemat