15:00 . Anggota Panwaslu Tingkat Kecamatan di Bojonegoro Resmi Dilantik   |   14:00 . Sah! Sukirno Nakhodai Elang Bengawan Rescue Bojonegoro Masa Bhakti 2024-2026   |   13:00 . Matsagabo Gelar Haflah Akhirussanah dan Wisuda Purna Siswa ke-29   |   08:00 . Pilkada Bojonegoro 2024: Gerindra Jatim Tunjuk Sahudi sebagai Wakil Anna Muawanah   |   16:00 . Hendak Jumatan, Seorang Jamaah Haji Asal Bojonegoro Wafat di Masjidil Haram   |   09:00 . WR III Unugiri Tekankan Hal Ini Saat Acara Pekan Prestasi Mahasiswa   |   20:00 . Maju Pilbub Bojonegoro 2024, Segini Dana yang Perlu Disiapkan   |   19:00 . EMCL dan GP Ansor Sinergi Bangun Infrastruktur Desa   |   18:00 . Silon Dibuka Kembali, Bapaslon Nurul-Nafik Yakin Berkas Dukungan Melebihi Persyaratan   |   17:00 . Dua Putri Unugiri Juara 1 Lomba Puisi Tingkat Nasional   |   12:00 . Pertumbuhan Kredit 2024 Diproyeksikan Mencapai Batas Atas 10 Sampai 12%   |   11:00 . MI Islamiyah Kepoh Gelar PERBUMIS   |   10:00 . Tingkatkan Kualitas SDM Bidang Pariwisata, Pemkab Bojonegoro Gelar Uji Kompetensi Tour Management   |   09:00 . Inilah Ketentuan Iuran Sistem KRIS Pengganti Kelas BPJS Kesehatan 2024   |   08:00 . Legalitas NIB Hingga Sertifikasi Halal Permudah UMKM Lebarkan Sayap   |  
Mon, 27 May 2024
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Studi: Jadi Korban Pelecehan Seksual, Perempuan Lebih Berisiko Alami Hipertensi

blokbojonegoro.com | Thursday, 07 July 2022 07:00

Studi: Jadi Korban Pelecehan Seksual, Perempuan Lebih Berisiko Alami Hipertensi

Reporter: -

blokBojonegoro.com - Kekerasan maupun pelecehan seksual kepada perempuan tidak hanya berdampak buruk bagi kesehatan mentalnya, tapi juga fisiknya.

Hasil penelitian di Amerika Serikat menemukan bahwa perempuan yang pernah mengalami kekerasan seksual, seperti penyerangan juga pelecehan seksual di tempat kerja, jadi lebih berisiko alami tekanan darah tinggi selama tujuh tahun setelahnya.

Penelitian tersebut diterbitkan di Journal of American Heart Association, menunjukkan bahwa kekerasan seksual termasuk pengalaman umum, dialami oleh lebih dari 20 perempuan yang jadi responden studi di AS.

"Hasil kami menunjukkan bahwa wanita yang melaporkan mengalami serangan seksual dan pelecehan seksual di tempat kerja memiliki risiko hipertensi tertinggi, menunjukkan potensi efek gabungan dari beberapa paparan kekerasan seksual pada kesehatan kardiovaskular," kata penulis utama studi dari Harvard TH Chan School of Public Health, Boston, Rebecca B. Lawn, Ph.D., dikutip Science Daily.

Lawn dan rekan-rekannya menganalisis hubungan dampak lanjutan dari kekerasan seksual, terutama yang berkaitan dengan tekanan darah. Sambil memperhitungkan kemungkinan dampak paparan jenis trauma lainnya.

Para peneliti menggunakan Nurses' Health Study II (NHS II), sebuah studi longitudinal pada perempuan dewasa di AS yang dimulai pada tahun 1989 dengan 115.000 perawat terdaftar.

Seiring waktu, NHS II telah mengumpulkan data tentang berbagai variabel sosiodemografi, medis, dan perilaku. Sebagai bagian dari sub-studi NHS II 2008, subkelompok peserta melaporkan apakah mereka pernah mengalami pelecehan seksual di tempat kerja (baik fisik atau verbal) dan apakah mereka pernah mengalami kontak seksual yang tidak diinginkan.

Mereka juga melaporkan paparan trauma lain, seperti kecelakaan, bencana, atau kematian tak terduga dari orang yang dicintai.

Lawn dan rekan menganalisis data sub-studi NHS II, tidak termasuk peserta yang sudah memiliki diagnosis tekanan darah tinggi atau sedang minum obat untuk tekanan darah tinggi dari analisis mereka. Mereka juga mengecualikan perempuan yang memiliki riwayat penyakit kardiovaskular atau serebrovaskular.

Sampel akhir terdiri dari 33.127 perempuan yang berusia 43 hingga 64 tahun pada 2008.

Data NHS II menunjukkan bahwa pengalaman kekerasan seksual termasuk hal biasa, di mana sekitar 23 persen perempuan pernah mengalami kekerasan seksual selama periode hidupnya. Sementara 12 persen lainnya pernah mengalami pelecehan seksual di tempat kerja. Sekitar 6 persen pernah mengalami keduanya.

Sekitar 21 persen perempuan melaporkan alami tekanan darah tinggi selama periode tindak lanjut, dari 2008 hingga 2015.

Dibandingkan dengan perempuan yang tidak pernah mengalami trauma apa pun, mereka yang pernah mengalami kekerasan seksual kapan pun dalam hidupnya lebih mungkin mengalami tekanan darah tinggi.

Di seluruh analisis, para peneliti menemukan bahwa hubungan antara pengalaman traumatis non-seksual dan tekanan darah tinggi tidak konsisten.

Para peneliti mencatat bahwa risiko tekanan darah tinggi yang terkait dengan kekerasan seksual seumur hidup serupa besarnya dengan hubungan dengan faktor-faktor lain yang telah mendapat perhatian lebih. Seperti paparan pelecehan seksual sebagai anak atau remaja, durasi tidur, dan paparan polutan lingkungan.

*Sumber: suara.com

 

Tag : pendidikan, kesehatan, Pelecehan Seksual



* Ingin Beli / Transaksi, Klik di Bawah Ini

Logo WA Logo Telp Logo Blokbeli

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

  • Monday, 19 February 2024 20:00

    PEPC JTB Kunjungi Kantor Baru BMG

    PEPC JTB Kunjungi Kantor Baru BMG Perwakilan PT Pertamina EP Cepu (PEPC) Zona 12, Regional Indonesia Timur, Subholding Upstream Pertamina mengunjungi kantor redaksi blokBojonegoro.com (Blok Media Group/BMG), di BMG CoWorking Space, Jalan Semanding-Sambiroto, Desa Sambiroto, Kecamatan...

    read more

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

Lowongan Kerja & Iklan Hemat