21:00 . Kejari Periksa 150 Kades di Bojonegoro Soal Mobil Siaga   |   20:00 . Rugby UNUGIRI Bojonegoro Raih Juara 3 Kejurnas Mahasiswa di Surabaya   |   19:00 . Lomba Mewarnai, Ramaikan Harlah YPSPP Ulul Albab Plesungan   |   18:00 . Presiden Jokowi Teken PP Nomor 21 Tahun 2024 tentang Tapera   |   17:00 . Berantas Rokok Ilegal, Satpol-PP Jatim Sosialisasi di Bojonegoro   |   14:00 . Selama Penyidikan, Kejari Periksa 150 Kades di Bojonegoro Soal Mobil Siaga   |   10:00 . KPU Bojonegoro Lantik 1.290 PPS untuk Pilkada 2024   |   09:00 . Sebuah Pesan untuk Guru dan Siswa   |   08:00 . Jamaah Haji Meninggal di Masjidil Haram, Kemenag Bojonegoro Kunjungi Rumah Duka   |   07:00 . Kenakan Pakaian Adat, MIN 1 Bojonegoro Lepas 159 Siswa   |   20:00 . Gali Potensi Istimewa Mahasiswa, BEM KM UNUGIRI Adakan Kajian Filsafat   |   19:00 . Terapkan Agroforestri Sistem Silvopastur Pada Kelompok Ternak, Sulistiyo jadi Pemuda Pelopor Bidang Pangan   |   18:00 . Pemkab Harap Pemuda Pelopor dari Bojonegoro Lolos Sampai Nasional   |   17:00 . Daftar 50 Anggota DPRD Bojonegoro Terpilih Periode 2024-2029   |   16:00 . Polisi Buru Emak-emak yang Palak Kasir Toko Pakaian di Bojonegoro   |  
Wed, 29 May 2024
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Cerita Desa Sitiaji, Jadi Gelap saat Ada Belanda

blokbojonegoro.com | Saturday, 07 October 2023 14:00

Cerita Desa Sitiaji, Jadi Gelap saat Ada Belanda

Kontributor: Sahdan 

blokBojonegoro.com - Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur terdiri dari 28 kecamatan, 11 kelurahan, dan 419 desa. Dari ratusan desa itu memiliki nama yang unik, dan masing-masing punya cerita menarik yang sudah turun temurun diceritakan dari generasi ke generasi.

Kali ini blokBojonegoro.com melipir ke Desa Sitiaji Kecamatan Sukosewu, yang berjarak kurang lebih 20 kilometer dari pusat Kota Bojonegoro, apabila ditempuh dengan berkendara sepeda motor bisa memakan waktu sekira 31 menit.

Menurut cerita yang beredar di masyarakat, nama Sitiaji berasal dari dua suku kata bahasa Jawa yaitu Siti dan Aji, secara etimologis berarti tanah yang bertuah atau berharga.

Konon menurut cerita sesepuh desa, wilayah Desa Sitiaji tidak pernah dijajah oleh Belanda, penjajah tidak dapat memasuki kawasan Sitiaji dikarenakan terlihat gelap.

Meskipun penduduk pada zaman penjajahan dapat melihat dan beraktivitas seperti biasa, akan tetapi penjajah Belanda tidak dapat memasuki desa karena kegelapan yang melanda para penjajah, sehingga wilayah yang tidak dapat dimasuki pihak penjajahan Belanda dinamakan Desa Sitiaji.

Pemerintahan Desa Sitiaji terbentuk pada tahun 1929 dan kepala desa pertama dijabat oleh H. Sidik, secara historis Sitiaji merupakan gabungan dua desa yaitu Klangkrangrejo dan Tlapak.

Sampai saat ini belum ditemukan secara pasti alasan yang melatarbelakangi penggabungan dua desa tersebut, setelah menjabat selama 8 tahun H. Sidik diganti oleh Kartodikromo pada tahun 1937.

Selanjutnya pada tahun 1963 Kepala Desa Sitiaji dijabat oleh Taslim. Pada masa kepimpinan Taslimlah dibangun balai desa atau kantor desa pada tahun 1981 sampai 1990 kemudian sampai berakhirnya masa jabatan.

"Sepanjang masa penjajahan Belanda Desa Sitiaji tidak pernah dimasuki karena ketika akan masuk desa selalu gelap, sehingga mungkin satu-satunya desa yang ada di Kabupaten Bojonegoro yang belum pernah dijajah ya desa ini," ungkap Sekretaris Desa Sitiaji, Ahmad Bahrudin.

Letak geografis Desa Sitiaji terletak di Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur. Desa Sitiaji memiliki luas wilayah sekitar 280,85 Ha, dua dusun yang membentuk Desa Sitiaji masing-masing disebut Krajan dan Tlapak.

Desa Sitiaji terletak 19,1 hingga 20 kilometer dari ibu kota kabupaten serta 4,8 kilometer dari pusat pemerintahan Kecamatan Sukosewu , suhu udara rata-rata di wilayah dataran rendah berkisaran antara 28 hingga 35 derajat celsius, dan ketinggiannya hanya 250 meter di atas permukaan laut.

Sebagai pusat administrasi Desa Sitiaji, Dusun Krajan berfungsi sebagai pusat pemerintahan, penduduk laki-laki 2.034 orang dan perempuan 2.007 orang yang tinggal di Desa Sitiaji, terdapat 99,86 persen umat Islam dan 0,14 persen umat kristen yang tinggal di Desa Sitiaji.

Kemudian masyarakat mayoritas petani yang mengkhususkan diri pada produksi padi, tembakau, tanaman sampingan antara lain kacang almond, jagung dan semangka.

Batas-batas Desa Sitiaji, sebelah barat Desa Tegalkodo, sebelah timur Desa Genjor, sebelah Utara Desa Tegalkodo, sebelah selatan Desa Balongrejo.

"Mayoritas penduduk Desa Sitiaji sebagai petani padi, dan tembakau kemudian diwaktu-waktu tertentu ada petani yang menanam semangka, kacang almond, jagung, dan mayoritas warga memeluk agama Islam hanya sebagaian kecil saja beragama kristen," ungkap Ahmad Bahrudin saat diwawancarai awak media blokBojonegoro.com. [sah/mu]

 

Tag : Cerita desa, sejarah desa, desa sitiaji, sukosewu



* Ingin Beli / Transaksi, Klik di Bawah Ini

Logo WA Logo Telp Logo Blokbeli

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

  • Monday, 19 February 2024 20:00

    PEPC JTB Kunjungi Kantor Baru BMG

    PEPC JTB Kunjungi Kantor Baru BMG Perwakilan PT Pertamina EP Cepu (PEPC) Zona 12, Regional Indonesia Timur, Subholding Upstream Pertamina mengunjungi kantor redaksi blokBojonegoro.com (Blok Media Group/BMG), di BMG CoWorking Space, Jalan Semanding-Sambiroto, Desa Sambiroto, Kecamatan...

    read more

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

Lowongan Kerja & Iklan Hemat