Reporter: Rizki Nur Diansyah
blokBojonegoro.com – Kabar hilangnya lima jurnalis saat menjalankan tugas peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda mengundang keprihatinan dari kalangan jurnalis di berbagai daerah, termasuk Jurnalis di Kabupaten Bojonegoro.
Keprihatinan tersebut diwujudkan belasan jurnalis yang bertugas di Kabupaten Bojonegoro dengan menggelar doa bersama di Masjid DPRD Bojonegoro. Doa dipanjatkan agar lima jurnalis yang hingga kini masih dalam pencarian segera ditemukan dalam kondisi selamat, Kamis (10/9/2025) malam.
Para jurnalis Bojonegoro juga mendoakan agar keluarga kelima jurnalis tersebut diberikan ketabahan dan kekuatan. Mereka berharap proses pencarian yang sedang dilakukan membuahkan kabar baik.
Tak hanya menjadi momentum doa, peristiwa tersebut, juga menjadi bahan refleksi bagi para jurnalis Bojonegoro, perihal pentingnya mengedepankan keselamatan ketika menjalankan tugas jurnalistik di lapangan, terutama saat meliput peristiwa bencana alam.
‘’Memang banyak hal harus kita perhitungkan ketika liputan di lapangan. Terutama, ketika liputan bencana,’’ ungkap jurnalis INews Bojonegoro Dedi Mahdi dalam kesempatan itu.
Dedi turut mengingatkan satu kredo yang selama ini menjadi pegangan penting dalam menjalankan tugas jurnalistik, khususnya ketika berhadapan dengan situasi berisiko. Yakni, tidak ada berita seharga nyawa.
Menurutnya, tugas jurnalistik memang menuntut keberanian dan ketelitian dalam menggali informasi. Namun, keselamatan jurnalis tetap harus menjadi pertimbangan utama dalam setiap peliputan.
Sementara itu, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bojonegoro M. Suaeb menilai peristiwa yang menimpa lima jurnalis di Selat Sunda juga menjadi pengingat penting mengenai perlindungan terhadap jurnalis, termasuk melalui jaminan asuransi.
‘’Dalam beberapa kasus, kerja-kerja jurnalistik di lapangan sangatlah riskan. Maka, jurnalis harus dilindungi asuransi. Perusahaan media wajib memberikan asuransi itu,’’ tutur Suaeb.
Hal senada disampaikan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bojonegoro Sasmito Anggoro. Ia berharap kegiatan tersebut tidak hanya menjadi bentuk solidaritas terhadap lima jurnalis yang hilang, tetapi juga semakin memperkuat kebersamaan antarjurnalis di Bojonegoro.
‘’Makin aktif dalam bersinergi dan berkolaborasi. Makin profesional dalam menunaikan kerja-kerja jurnalistik,’’ kata Pemimpin Redaksi Suara Bojonegoro itu.
Doa bersama ini, diinisiasi PWI Bojonegoro, AJI Bojonegoro, dan IJTI Korda Pantura Raya. Kegiatan tersebut juga diikuti jajaran Seksi Humas dan Satintelkam Polres Bojonegoro. Sejumlah mahasiswa dari KOPRI PC PMII Bojonegoro turut hadir dalam doa bersama tersebut. [riz/mad]