Reporter: M. Anang Febri
blokBojonegoro.com - Komisi B DPRD Jawa Timur menilai kinerja perekonomian provinsi sepanjang 2025 menunjukkan tren positif. Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur tercatat melampaui rata-rata nasional, dengan sektor pertanian, kelautan, perikanan, industri, UMKM, dan pariwisata menjadi tulang punggung utama perekonomian daerah.
Penilaian tersebut disampaikan dalam rapat paripurna pembicaraan tingkat I terkait laporan hasil pembahasan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Jawa Timur Tahun Anggaran 2025, Jumat (10/7).
Juru Bicara Komisi B DPRD Jawa Timur, Erjik Bintoro, mengatakan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada 2025 mencapai 5,33 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,11 persen. Meski demikian, kontribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sedikit menurun dari 14,31 persen menjadi 14,29 persen.
"Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur tercatat sebesar 5,33 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,11 persen. Capaian tersebut menjadi bukti bahwa perekonomian Jawa Timur berada dalam kondisi yang solid," ungkap Erjik.
Komisi B mencatat sektor-sektor yang menjadi mitra kerjanya menyumbang sekitar 66,73 persen terhadap PDRB Jawa Timur. Sektor tersebut meliputi pertanian, kelautan, perikanan, kehutanan, UMKM, industri, hingga pariwisata yang dinilai menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi provinsi.
Selain itu, Jawa Timur juga mempertahankan posisinya sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Sepanjang 2025, produksi telur ayam mencapai 2,02 juta ton, perikanan tangkap 633 ribu ton, produksi beras 6,5 juta ton, serta gula sebesar 1,3 juta ton. Capaian tersebut turut didukung peningkatan alokasi anggaran organisasi perangkat daerah (OPD) mitra Komisi B dari 4,76 persen pada 2024 menjadi 5,38 persen atau sekitar Rp1,68 triliun pada 2025.
"Jawa Timur terus membuktikan diri sebagai lumbung pangan nasional sekaligus buffer stock strategis bagi ketahanan pangan negara. Capaian produksi pangan yang terus tumbuh menjadi bukti ketangguhan masyarakat Jawa Timur," tutur Erjik.
Di balik capaian tersebut, Komisi B masih menemukan tingginya Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) pada sejumlah OPD, terutama yang berasal dari belanja pegawai. Kondisi itu dinilai mencerminkan pengelolaan anggaran yang belum optimal dan berpotensi menghambat pelaksanaan berbagai program strategis daerah.
Komisi B juga mengapresiasi meningkatnya minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian, peternakan, perikanan, UMKM, dan pariwisata. Menurut Erjik, tren positif tersebut perlu terus didukung melalui inovasi, kolaborasi, dan kebijakan yang berpihak pada pengembangan sektor ekonomi strategis.
Dengan langkah tersebut, Komisi B berharap sektor-sektor unggulan Jawa Timur mampu meningkatkan daya saing daerah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan. [feb/mad]
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published