Reporter: M. Anang Febri
blokBojonegoro.com - Peluh menetes di bawah terik matahari Desa Kesongo, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro. Di sela bunyi sekop yang mengaduk semen, ketukan palu, dan estafet genteng dari tangan ke tangan, tak terdengar keluhan. Yang ada justru canda, tawa, dan semangat gotong royong yang menyatukan prajurit TNI dengan warga.
Pemandangan itu menjadi keseharian selama pelaksanaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-129 Kodim 0813 Bojonegoro. Di desa ini, pembangunan bukan hanya menghadirkan jalan dan infrastruktur, tetapi juga membangun kembali harapan melalui rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
Satu demi satu rumah warga yang sebelumnya rapuh mulai berubah wajah. Rumah Koko Margono di Dusun Krebet menjadi salah satu titik yang dikebut pengerjaannya. Prajurit Satgas TMMD bersama warga memasang bata ringan, menyemen dinding, hingga memastikan bangunan berdiri kokoh agar segera bisa dihuni dengan aman.
Tak jauh dari sana, rumah Mbah Samijan yang selama bertahun-tahun menjadi saksi perjalanan hidupnya juga perlahan bangkit. Di atas kerangka atap, prajurit TNI menyusun genteng satu per satu di bawah sengatan matahari. Bagi Mbah Samijan, setiap genteng yang terpasang bukan sekadar peneduh dari hujan dan panas, tetapi lambang hadirnya harapan baru di usia senja.
Di Dusun Krisik, rumah sederhana milik Wagini memasuki tahap akhir pengerjaan. Keramik mulai menutup lantai, dinding diplamir hingga halus, lalu bersiap menerima sapuan cat. Perubahan itu membuat perempuan berusia 72 tahun tersebut tak mampu menyembunyikan rasa harunya.
"Saya sangat bersyukur. Tanpa bantuan bapak-bapak TNI dan warga, mungkin rumah saya tidak akan sebagus ini," ungkap Mbah Wagini.
Kisah serupa juga hadir di Dusun Kedungpandan. Rumah Bu Tini menjadi salah satu sasaran rehabilitasi yang mengalami perubahan paling nyata. Dari rumah dengan lantai tanah, kini perlahan berubah menjadi hunian yang bersih dan nyaman. Memasuki tahap akhir, personel Satgas TMMD bersama warga bergotong royong memasang keramik dengan penuh ketelitian.

Setiap sudut rumah dikerjakan dengan cermat. Ketebalan adukan semen diperhatikan, kerataan keramik diukur, hingga nat dipastikan rapi agar lantai tidak hanya indah dipandang, tetapi juga kuat dan tahan lama.
Bagi Bu Tini, perubahan itu bukan sekadar bangunan baru.
"Dulu saya tidak pernah membayangkan bisa punya lantai keramik seperti ini. Sekarang rumah saya menjadi bersih dan nyaman. Terima kasih kepada bapak-bapak TNI dan semua warga yang sudah membantu," tuturnya penuh haru.
Masih di Desa Kesongo, rumah Bu Jasmiati memasuki proses pelamiran dinding sebelum pengecatan. Sentuhan akhir itu membuat rumah yang semula tampak kusam berubah lebih terang dan layak huni.
Sementara di Dusun Bekatul, Mbah Kardo yang telah berusia 86 tahun menyaksikan rumahnya perlahan berdiri kembali. Prajurit TNI dan warga membentuk rantai manusia untuk mengoper genteng menuju atap. Kekompakan itu menjadi gambaran nyata bahwa pembangunan desa bukan pekerjaan satu pihak, melainkan hasil kebersamaan.

Di Dusun Mundu, senyum serupa juga terpancar dari wajah Mbah Kasiman. Rumah yang sebelumnya bocor dan lapuk kini memiliki dinding yang kokoh, lantai keramik yang bersih, serta lingkungan yang lebih sehat. Baginya, TMMD bukan sekadar program pembangunan, tetapi hadiah yang menghadirkan ketenangan di masa tua.
Begitu pula yang dirasakan Pak Ladi di Dusun Pereng. Rumah yang dulu membuat keluarganya cemas setiap kali hujan turun kini berubah menjadi tempat tinggal yang aman. Bahkan setelah pemasangan atap selesai, personel Satgas TMMD masih membantu membersihkan bagian dalam rumah dan merapikan lingkungan sekitar agar benar-benar siap dihuni.
Komandan SSK Satgas TMMD ke-129 Kodim 0813 Bojonegoro, Lettu Ckm Purnomo, mengatakan rehabilitasi RTLH menjadi salah satu prioritas karena menyentuh langsung kebutuhan dasar masyarakat.
"Seluruh sasaran fisik terus kami percepat, namun kualitas bangunan tetap menjadi perhatian utama. Kami ingin rumah-rumah ini benar-benar aman, sehat, nyaman, dan memberikan manfaat jangka panjang bagi warga," ujarnya.
Hal senada disampaikan Dan SST-1 Satgas TMMD ke-129, Letda Inf Ady Yuniarto. Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh kerja prajurit, tetapi juga semangat gotong royong masyarakat.

"Kebersamaan antara TNI dan warga menjadi kekuatan utama dalam menyelesaikan setiap sasaran. TMMD bukan hanya membangun rumah, tetapi juga memperkuat kemanunggalan TNI dan rakyat," katanya.
Di Desa Kesongo, TMMD ke-129 menghadirkan makna yang lebih dalam daripada sekadar pembangunan fisik. Setiap bata yang tersusun, setiap dinding yang diplester, setiap keramik yang terpasang, hingga setiap genteng yang menutup atap menjadi simbol kepedulian yang diwujudkan melalui kerja nyata.
Program yang berlangsung hingga 13 Agustus 2026 itu memang membangun jalan, infrastruktur, dan fasilitas umum. Namun bagi Koko Margono, Wagini, Bu Tini, Mbah Samijan, Mbah Kasiman, Bu Jasmiati, Mbah Kardo, Pak Ladi, serta keluarga lainnya, TMMD telah memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga: sebuah rumah yang layak untuk ditinggali, rasa aman untuk keluarga, dan harapan baru untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
Di Desa Kesongo, kemanunggalan TNI dan rakyat tidak berhenti sebagai slogan. Ia menjelma menjadi rumah-rumah yang kembali berdiri kokoh, senyum yang merekah di wajah para penerima manfaat, serta keyakinan bahwa gotong royong tetap menjadi fondasi terkuat dalam membangun negeri dari desa. [feb/mad]
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published