Kemana Perginya Waktu Belajar?
Usman Roin

Oleh: Usman Roin *

blokBojonegoro.com - Pertanyaan ini, relevan sekali untuk konteks kini. Coba kita amati, siapa saja di keluarga kita yang istikamah belajar –dalam hal ini membaca, saat malam hari tiba. Ayah, ibu, kakak, adik, hingga nenek, siapa dari mereka yang masih membuka buku setiap hari terlebih hatam!

Jika di keluarga kita sudah, coba kita luaskan observasinya ke tetangga kita. Siapa lima tetangga yang berjejer di sebelah kanan rumah kita, lalu lima tetangga di depan rumah kita, kemudian lima tetangga di belakang rumah kita, serta lima tetangga di sebelah kiri rumah kita. Siap dari lima tetangga masing-masing penjuru yang masih menyempatkan sinau di malam hari?

Dua pertanyaan amatan (observasi) ini hakikatnya memiliki tiga objek. Kepada diri sendiri –sebagai objek pertama, apakah sudah menjadi pionir belajar setiap hari, yang kemudian berdampak kepada anggota keluarga yang kita miliki, sebagai objek kedua. Sebelum akhirnya, ditiru kepada objek ketiga, yakni lingkungan sekitar tempat tinggal kita.

Perihal waktu belajar, saya mengamati seperti ‘hilang’ dan entah ke mana perginya. Coba kita hubungkan dengan diri kita sendiri dahulu, pukul berapa kita menjadwalkan diri untuk belajar hari ini? Lalu, kita lakukan istikamah, atau sengaja diada-adakan belajarnya oleh karena merasa sungkan tersindir oleh tulisan saya!

Jika diri kita tidak bisa menjawab, pukul berapa kita punya jadwal belajar, itulah yang kemudian saya maksud ‘hilangnya’ waktu belajar yang telah lama kita bangun. Kehilangan ‘penjadwalan’ waktu belajar juga maujud, bila anggota keluarga di rumah tidak ada yang belajar. Mereka sibuk dengan gawainya masing-masing.

Muhasabah

Jika indikator di atas nyata adanya, mungkin muhasabah kehadiran teknologi perlu dilakukan. Cobalah kita tengok pemikiran apik Mahatma Gandhi yang dicuplik oleh Fahruddin Faiz dalam buku barunya berjudul ‘Seni Menyikapi Hidup: Rahasia Melampaui Diri Sendiri’ (2025: 148). Gandhi, menjelaskan secara filosofis agar teknologi yang kita miliki tidak kemudian menggeser nilai-nilai tradisional yang sudah menjadi dasar hidup.

Kata ‘tradisional’ yang dimaksud, bahwa teknologi yang hakikatnya memudahkan hidup; tetapi jangan sampai kemudian kehadiran –gadget dan saudara-saudaranya, membuat kita menghilangkan nilai-nilai baik berupa istikamah belajar setiap hari, yang dari dahulu diyakini sebagai fondasi kehidupan kaum pembelajar.

Jalan tengahnya menurut Gandhi, gadget –sebagai teknologi kekinian yang hadir, tidak kemudian menggeser bahkan menghilangkan sama sekali penjadwalan waktu belajar diri sendiri dan keluarga. Alhasil, meski memiliki gadget dengan berbagai varian merek dan harga yang fantastis, waktu diri untuk membaca tetap kudu ada. Keluarga, juga bergandeng tangan saling meluangkan dan mengingatkan jadwal belajar sebagai bagian nilai kebaikan yang tidak boleh luntur di tengah hadirnya teknologi.

Lalu, bagaimana cara mengembalikan waktu belajar di tengah himpitan godaan teknologi –dalam hal ini gadget, yang di dalamnya selalu menampilkan informasi yang tidak terbendung?

Tentu, secara pribadi saya dan pembaca kudu siap menjadi teladan belajar dalam hal ini membaca. Bagaimana logikanya, kita meminta kepada adik, saudara, untuk membaca sebagai misal, sementara kita sendiri tidak pernah melakukan itu menjadi kurang tepat. Bila merujuk kepada konsep pendidikan Islam, Syaikh Prof. Dr. Fadhl Ilahi Zhahir dalam bukunya ‘Nabi Sang Guru’ (2020:92), bila keberhasilan cara mendidik kanjeng Nabi Muhammad Saw, salah satunya melakukan terlebih dahulu sebelum meminta sahabat menjalankan.

Jika demikian, saya dan pembaca jika ingin anggota keluarga kita demen belajar, selayaknya melakukan dahulu –belajar, sebelum kemudian memerintah kepada mereka –istri, anak, adik, saudara dan seterusnya, sebagai anggota keluarga. Terlebih, terdapat pepatah mengatakan ‘Alfi’lu ablaghu min al-Qouli’ yang berarti bila perbuatan itu lebih mengena daripada perkataan.

Kemudian jika kita –saya dan pembaca, sudah menerangkan dengan tindakan konkrit bila kita sudah istikamah setiap hari belajar, sebagai penguat saya cuplikkan hasil penelitian Nafisah Risma dan Mamun Hanif (2024: 81), bila setelah diri, keluarga juga memiliki peran signifikan dalam memotivasi belajar.

Dalam penelitian itu disampaikan, bila terdapat empat peran keluarga dalam hubungannya memotivasi belajar. Yaitu, memberi apresiasi bagi anggota keluarga yang semangat belajar, membangun komunikasi terbuka perihal kesulitan yang dihadapi anggota keluarga saat belajar, lalu menyediakan suasana belajar kondusif berupa ruang belajar dan sarana penunjang, serta membantu membuatkan jadwal belajar bersama anggota keluarga.

Jika ‘diri’ sudah memulai dan istikamah belajar, kemudian ‘keluarga’ juga berupaya mewujudkan empat hal di atas guna memotivasi anggota keluarga agar demen belajar, tentu pertanyaan kemana perginya waktu belajar tidak akan terjadi.

Namun menjadi sebaliknya, bila ‘diri’ luput memberi teladan, dan ‘keluarga’ juga abai untuk memformulasikan hal di atas, maka waktu belajar benar-benar kita berhentikan pelan-pelan hingga akhirnya berhenti sama sekali dan hilang.

* Penulis adalah Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam Unugiri.