Oleh: Usman Roin*
blokBojonegoro.com - Kala mengikuti buka bersama (bukber) teman-teman Direktorat Kelembagaan, Alumni, dan SDM di daleme Wakil Rektor Unugiri, Ustaz Yogi Prana Izza, Jumat (27/02/26), ada hal menarik yang disampaikan beliau.
Di hadapan teman-teman KAS yang duduk sambil lesehan, Ustaz Yogi menyampaikan bila keberadaan kita –eksistensi meminjam bahasa beliau, itu seperti lampu dan listrik.
Dijelaskan beliau, kebanyakan orang memuji keindahan lampu. Ada yang terang, redup, dan gemerlap indah sekali. Tetapi, banyak orang yang luput bila cahaya lampu yang menyala tersebut berkat kontribusi listrik –dari gardu, lalu disalurkan melalui kabel, baik yang dibentang di luar maupun yang tertanam di paralon dinding.
Lalu, apa yang bisa dilihat dari penggambaran tersebut?
Sebagai manusia, banyak yang menyaksikan si dia –manusia dalam hal ini; itu hebat, cerdas, bisa ini dan itu. Sampai di situ saja. Yang dipuji adalah personality sebagaimana yang saya gambarkan.
Jarang ada yang mencari-cari informasi bagaimana sih dia bisa seperti itu –hebat, cerdas dan bisa ini dan itu. Sehingga proses yang mengantarkan kehebatan seseorang, proses yang menunjukkan dia bisa cerdas, serta proses jungkir baliknya dia bisa ini dan itu tertutup dan tidak pernah digali.
Jadi oleh Proses
Jika demikian, yang diperlukan adalah cara pandang kita yang sepertinya kudu dibalik. Saat menyaksikan seseorang, akan lebih arif bila yang kita lihat bagaimana proses dia bisa sampai seperti itu. Hebat, cerdas dan bisa ini dan itu.
Tidak kemudian hanya melihat keberadaan dia yang hebat, cerdas dan bisa ini dan itu an sich. Jika yang kita lakukan cara pandang tersebut, ini cara pandang “hasil” bukan cara pandang “proses”; yakni rangkain tindakan, perbuatan, atau pengolahan yang menghasilkan sosok pribadi –sebagaimana disebut, meminjam istilah KBBI.
Analogi sederhana ini jika kemudian kita kembali kepada contoh lampu, gardu dan kabel listrik; yang selalu mendapat pujian adalah lampunya. “Terang sekali”, “indah banget”, “so sweet” dan sebagainya akan terlontar oleh siapa saja. Bahkan, terkadang digunakan studi tiru, bila kediaman kita juga ingin dikasih lampu jenis serupa.
Sementara gardu, lalu kabel, yang dalam proses menghantar arus listrik kepanasan versus kehujanan, kadang tertimpa dahan; atau sengaja dicuri orang, lalu hewan sekelas tikus ikut-ikutan ngrikiti atau memotong-motong, luput dari pujian. Ia –gardu-kabel, memilih jadi yang berada dibalik layar dan tidak ingin dipuji, sanjung, dan aneka macam pemanis bibir lainnya.
Pesan Belajar
Melihat peran gardu dan kabel yang menjadikan lampu menyala, terdapat pesan aksiologis atau sarat nilai yang bisa dipetik. Pertama, adalah pesan belajar terbuka. Artinya, keberhasilan apapun itu tentu berkat urun rembug banyak stakeholder.
Tidak bisa kemudian diklaim “saya yang paling ini dan itu..”; melainkan berbagai kontribusi untuk mengantarkan kepada kesuksesan dan keberhasilan, berkat kontribusi berbagai tangan (power), pikiran (mind), serta keputusan kebijakan para pimpinan (leader).
Yang terpenting adalah bagaimana saling menghargai kontribusi besar, sedang, dan kecil gerbong sebuah stakeholder, yang dalam bahasa Marvin Bower dalam bukunya “The Will to Lead” (1998:80) bisa dilakukan dengan banyak belajar mendengarkan orang lain secara aktif.
Kedua, belajar menyuguhkan yang terbaik. Kesuksesan sempurna, tentu tidak terlepas dari kontribusi person to person yang terbaik. Dan tidak mungkin sebaliknya. Sebagai contoh, untuk menyukseskan suatu projek, terpilih 10 person yang ditunjuk. Jika kemudian 10 person tersebut kala pelaksanaan menyuguhkan kontribusi yang terbaik, keberhasilan yang sempurna akanlah didapat.
Sebaliknya, bila dari 10 person terdapat 3 saja yang asal –dalam pengertian lain tidak maksimal usaha, yang terjadi kemudian adalah ketidaksempurnaan projek akanlah diterima. Lalu cita-cita menjadi “terbaik”, “terdepan” dan seterusnya, akan menjadi lambat ketercapaiannya.
Secuil refleksi ini jika kemudian dikembalikan kepada filosofi lampu dan listrik terdapat benang merah, bila ada satu saja kabel yang putus-nyambung dalam arti tidak mau hingga tidak maksimal ikut menyalurkan arus listrik, maka terangnya lampu juga tidak akan bisa dinikmati.
Bahkan, bisa jadi terkesan horror. Oleh sebab, menyala mati-menyala mati yang dalam terminologi Jawa disebut “byar pet-byar pet”. Wallahu’alam bishawab.
* Penulis adalah Kepala Perpustakaan Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri.
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published