11:00 . HUT ke-38, SMP Negeri Kapas Tonjolkan Rakitan Sepeda Energi Listrik   |   07:00 . Jangan Cukur Bulu Kemaluan Saat Vagina Sedang Dalam Kondisi Begini   |   18:00 . Persibo Bojonegoro Melaju ke Babak 16 Besar   |   17:00 . Program Rantang Kasih Moe Tingkatkan Gizi Lansia   |   16:00 . Awal Bulan Harga Emas 24 Karat Antam Terjun   |   15:00 . Full Time, Persibo Taklukkan 1-0 Mitra Surabaya   |   14:30 . Half Time, Persibo Unggul 1-0 dari Mitra Surabaya   |   14:00 . Transparansi Pemdes Tlogorejo Raih Tiga Kategori KIP Se - Jawa Timur   |   13:45 . Menit 31 Persibo Berhasil Mencetak Gol Pertama ke Gawang Mitra Surabaya   |   13:00 . Persibo Tiba di Gresik, Kondisi Siap Tempur   |   12:00 . Harga Cabai di Pasar Bojonegoro Meroket Jelang Natal dan Tahun Baru   |   11:00 . Pemkab Bojonegoro Terima Penghargaan Kategori Tertinggi Komisi Informasi Jatim   |   10:00 . Program Aladin Bangun 7.041 Rumah Tak Layak Huni   |   08:00 . Musnahkan Barang Bukti dan Lelang   |   07:00 . Ketahui 5 Tanda ASI Kekurangan Nutrisi, Bisa Berdampak pada Kesehatan Bayi   |  
Fri, 03 December 2021
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Pancasila: Sebuah Ironi di Hari Jadi

blokbojonegoro.com | Monday, 22 June 2020 08:00

Pancasila: Sebuah Ironi di Hari Jadi

Oleh: Hilal Nur Fuadi

Sejumlah kontroversi selalu saja muncul di DPR. Lembaga yang berisikan para wakil rakyat ini seolah tiada henti menarik perhatian masyarakat, bahkan tidak jarang apa yang terjadi di DPR menimbulkan pro dan kontra dikalangan masyarakat. Terbaru, dan yang sedang hangat dibicarakan adalah Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP). Pada Rapat Paripurna 12 Mei 2020, RUU ini disepakati untuk dibahas sebagai inisiatif DPR dan RUU itu dibawa ke tingkat paripurna setelah didukung tujuh fraksi dalam rapat panja di Badan Legislasi (Baleg).

Rancangan RUU ini kemudian menimbulkan protes dari sebagian besar Ormas Islam di Indonesia, bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara resmi juga menolak RUU tersebut dengan mengeluarkan maklumat tertanggal 12 Juni 2020. MUI menolak keberadaan RUU ini karena dinilai mendegradasikan Pancasila. Pasalnya, dalam RUU ini pasal 6 ayai (1) menyebutkan bahwa ada tiga ciri pokok Pancasila yang bernama Trisila yang berisi : ketuhanan, nasionalisme, dan gotong royong.

Kemudian pada ayat (2) Trisila dikristalisasi menjadi Ekasila yaitu : gotong royong. Selain itu, RUU ini juga tidak mencantumkan TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 tentang larangan ajaran komunisme atau Marxisme-Leninisme. Apa yang ada didalam RUU tersebut kemudian menimbulkan asumsi dikalangan masyarakat luas bahwa keberadaan RUU HIP ini seolah-olah ingin melumpuhkan keberadaan sila pertama Pancasila yaitu “Ketuhanan yang maha Esa” serta menyingkirkan peran agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Memang semangat gotong royong telah menjadi budaya masyarakat Indonesia semanjak dahulu, dan bahkan telah menjelma menjadi ciri khas kehidupan bangsa ini. Akan tetapi, tidak serta merta tatanan ideologi bangsa bisa diringkas dalam satu semangat gotong royong, karena negara ini adalah negara demokrasi yang didalamnya tumbuh dan berkembang beberapa agama dan sebagaimana yang dicantumkan dalam UUD 45 bahwa negara melindungi hak setiap warganya untuk memeluk agama dan beribadah menurut agama dan kepercayaannya masing-masing. Dari sini dapat disimpulkan bahwa kehidupan masyarakat Indonesia sangat kental dengan nilai-nilai keagamaan dan ketuhanan.

Jika menengok perjalanan sejarah perumusan Pancasila, maka nilai ketuhanan ini juga menjadi satu hal yang sifatnya sangat urgen dan sensitif. Dalam sidang BPUPKI yang berlangsung tanggal 28 Mei – 1 Juni 1945 muncul beberapa usulan tentang rancangan dasar negara. Usulan tersebut antara lain berasal dari Muh.Yamin, Prof.Dr. Soepomo dan Ir. Soekarno. Saat itu, usulan dari Ir.Soekarno yang mengemukakan lima dasar negara (Pancasila) yang berisi : a) Kebangsaan Indonesia; b) Internasionalisme dan peri kemanusiaan; c) Mufakat atau demokrasi; d) Kesejahteraan sosial; dan e) Ketuhanan yang maha Esa  diterima dan disepakati untuk menjadi rancangan lima dasar negara (Pancasila) pada tanggal 1 juni 1945, sehingga tanggal tersebut diperingati sebagai hari lahir Pancasila.(Wismulyani,E.2006).

Nilai ketuhanan juga menjadi permasalahan tersendiri ketika panitia sembilan merumuskan Piagam Jakarta (Jakarta Charter) yang isinya hampir menyerupai atau menyamai Pancasila yang ada saat ini, hanya yang membedakan adalah pada sila pertama di piagam Jakarta berbunyi “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi para pemeluknya”, dan hal inipun menimbulkan reaksi tersendiri dan mendapatkan protes dari berbagai pihak mengingat Indonesia memiliki masyarakat yang heterogen dengan berbagai macam agama. Dengan berbagai pertimbangan sila pertama pada piagam Jakarta juga harus mengalami perubahan dan ahirnya berubah menjadi Ketuhanan yang maha Esa.

Mengingat pada saat ini masih berada di bulan Juni, dan baru saja bangsa Indonesia memperingati hari lahirnya Pancasila, maka permasalahan RUU HIP ini seolah menjadi sebuah ironi tersendiri, karena terjadi saat peringatan hari jadi atau peringatan hari lahir Pancasila. Meskipun secara resmi pemerintah melalui Menkopolhukam Mahfud MD telah menyatakan bahwa pemerintah akan menunda pembahasan RUU HIP  ini, namun pernyataan tersebut belum mampu memuaskan masyarakat karena bagi sebagian masyarakat, kata “menunda” mengandung makna menghentikan sejenak dan ada kemungkinan untuk dilanjutkan kembali.

Sejatinya para pendiri bangsa ini telah menanamkan dan menegakkan dasar  ideologi yang kokoh bagi kehidupan berbangsa dan bernegara dan terbukti nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila selama ini mampu landasan ideologi yang kokoh dan mampu mempersatukan kehidupan bangsa. Sepertinya kita semua sependapat bahwa nilai-nilai ketuhanan dan penolakan ajaran komunisme (sesuai TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966) harus tetap ada dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga  tidak ada ruang untuk berkembangnya faham-faham komunisme maupun Marxisme-Leninisme di negeri ini, karena sudah menjadi fitrah bagi seorang manusia yang beragama untuk tetap menjaga kepercayaan dan keterikatan antara seorang hamba (manusia) dan sang pencipta (Tuhan) dan semua itu telah diatur dalam nilai-nilai ideoogi bangsa yang bernama Pancasila.

*Penulis adalah Guru Sejarah SMA Negeri 1 Gondang, Bojonegoro

Tag : pancasila, hari, jadi, ruu, dpr



* Ingin Beli / Transaksi, Klik di Bawah Ini

Logo WA Logo Telp Logo Blokbeli

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

  • Monday, 22 November 2021 14:00

    Resensi

    Dibalik Buku 00.00

    Dibalik Buku 00.00 Buku judul 00.00 merupakan karya kedua dari Anugrah Ameylia Falensia atau yang kerap dikenal dengan panggilan Amey atau cumi oleh teman-teman maupun para teman pembacanya....

    read more

Lowongan Kerja & Iklan Hemat

  • Wednesday, 10 November 2021 10:00

    BMG Buka Lowongan Wartawan bB

    BMG Buka Lowongan Wartawan bB Perkembangan blokMedia Group (blokBojonegoro media dan blokTuban media) semakin pesat dengan pembaca yang terus meningkat untuk wilayah Bojonegoro dan sekitarnya. Hal itu membuat manajemen melakukan pembenahan, termasuk menambah jumlah reporter...

    read more