Memilih Sekolah, Menilai Pendidik
Usman Roin

Oleh: Usman Roin*
 
blokBojonegoro.com - Tidak ada salahnya, bagi orang tua yang ingin menyekolahkan anak ke jenjang yang lebih tinggi, untuk sejenak bertanya-tanya perihal pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik –dalam hal ini guru, ustaz, ustazah. Mengapa? Minggu (7/6/26) yang lalu, penulis duduk sambil ngopi untuk menyelesaikan layout naskah buku di warung.

Tidak sengaja, penulis mendengar dialog antara anak dan ayah pemilik warung –yang penulis rahasiakan namanya– mengutarakan, bila si anak kesulitan dalam hal pemahaman materi dari sebuah mata pelajaran. Penulis kemudian ikut mengutarakan pertanyaan sedikit, “Apa guru tidak menguraikan materi secara jelas?”. Si anak kemudian menjawab, “Tidak kang –panggilan ke penulis, gurune datang ke kelas lalu menyuruh merangkum halaman sekian hingga sekian, dan dikumpulkan di meja guru,” paparnya.

Dari jawaban si anak yang akan mempersiapkan asesmen sumatif akhir tahun (Asat), hingga kemudian menyebabkannya kesulitan memahami materi, lalu timbul pertanyaan “nakal” penulis, apakah kesulitan yang dialami si anak disebabkan oleh pendidik kala pembelajaran sekadar meninggalkan “tugas” merangkum!

Refleksi

Sekilas, terhadap apa yang disampaikan si anak pemilik warung kopi kala berdialog dengan penulis, kita sebagai pendidik kudu melakukan refleksi. Artinya, memperbaiki metode pembelajaran yang telah direncanakan pada wilayah implementasi. Penulis menduga, dari sisi perencanaan pembelajaran pendidik telah membuat dengan baik. Hanya saja, dari sisi implementasinya kala pembelajaran, pendidik “teledor” dengan membiarkan peserta didik belajar sendiri yang dari sisi ketercapaian pembelajaran “sulit” akan tercapai.

Di sinilah pendidik kudu melakukan refleksi. Jangan sampai “atas nama” beban tugas, menghadiri kegiatan di luar dan sebagainya, pembelajaran dinomor sekiankan. Sebab, hal itu bisa menyebabkan keterputusan pemahaman peserta didik sebagaimana penulis contohkan anak pemilik warung kopi yang kesulitan kala akan mempersiapkan Asat.

Penulis lanjutkan analisis, bila pendidik “A” melakukan pembelajaran dengan meninggalkan tugas dalam bentuk merangkum, lalu dilanjut pendidik “B”, “C”, dan “D”, artinya bagaimana pemahaman peserta didik “menjadi baik” terhadap materi yang saat itu akan dijelaskan, berganti kepada tugas rangkum!

Tentu, peserta didik akan menemukan kesulitan saat akan menjalani asesmen. Karenanya, kala mengampu mata kuliah “Pengembangan Kurikulum PAI” penulis mengingatkan kepada mahasiswa, agar mempersiapkan pembelajaran sebelum masuk kelas, melaksanakan pembelajaran sebagaimana perencanaan yang telah dibuat, serta lakukan asesmen untuk mengukur ketercapaian materi pada mata pembelajaran.

Tanya Pembelajaran

Berdasarkan pada uraian di atas, mumpung ini orang tua ingin mencari lembaga pendidikan sebagai sekolah/madrasah lanjutan untuk si anak, selain bertanya perihal fasilitas, kurikulum, tidak ada salahnya juga bertanya perihal pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik.

Pertama, bisa dengan bertanya kepada salah satu guru. Lalu apa yang ditanyakan? Metode pembelajaran pendidik. Hal itu, agar orang tua mendapatkan penjelasan gaya pembelajaran pendidik memiliki keselarasan dengan karakter anak kah!

Selain itu, orang tua juga akan mendapatkan penjelasan langsung dari pendidik, pendekatan pembelajaran yang digunakan berpusat kepada anak (student centered) atau berpusat pada pendidik (teacher centered). Jika sudah diketahui, harapannya orang tua jadi mudah melanjutkan kesinambungan pembelajaran di rumah menjadi efektif. Kemudian yang terpenting, orang tua bisa memastikan bila guru memiliki strategi dalam menangani peserta didik kala mengalami kesulitan belajar hingga kebutuhan khusus.

Kedua, orang tua calon pendaftar bisa bertanya kepada peserta didik atau orang tua yang sudah bersekolah di situ. Cara ini sebagai pembanding. Apa yang disampaikan oleh pendidik, selaras dengan apa yang dirasakan oleh anak –sebagai peserta didik, dan orang tua sebagai wali.

Ketika jawabannya berbeda, tentu sebagai orang tua perlu melakukan pencarian data tambahan dengan menanyakan kepada beberapa anak –dalam hal ini peserta didik, dan orang tua. Tujuannya, agar dari berbagai hasil wawancara yang sudah dilakukan tersebut, kemudian bisa diambil kesimpulan untuk kemudian menjatuhkan pilihan menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan “A”, “B”, “C” dan seterusnya.

Akhirnya, kita sebagai orang tua tidak “sekadar” bisa menceritakan sekolah/madrasahnya sudah terakreditasi saja kala memilihkan untuk sang buah hati. Tetapi, orang tua juga memiliki alasan metodologis bila pendidiknya profesional dalam pembelajaran. Sebab, dari pendidik profesional, akan lahir generasi emas dari anak-anak kita. Bukan generasi “cemas” yang kala kita lihat di media sosial yang berseliweran, mengacungkan sejam untuk terlibat tawuran.
 
*Penulis adalah Dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, Unugiri.