Reporter/Foto: Wahyu Budiyanto
blokBojonegoro.com - Salsa, siswi Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 36 Bojonegoro, membuka dan mempelajari jurnal penghubung sekolah di sela waktu libur sekolah di rumahnya, Desa Brenggolo, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Minggu (21/6/2026). Jurnal penghubung tersebut menjadi sarana komunikasi antara sekolah dan orang tua sekaligus membantu siswa mengevaluasi kegiatan belajar selama di rumah.

Sebuah prestasi membanggakan yang mematahkan stigma keterbatasan kembali lahir dari rahim pendidikan rintisan. Salsa Nur Sabilla, siswi kelas X Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 36 Bojonegoro asal Desa Brenggolo, Kecamatan Kalitidu, sukses menorehkan tinta emas. Tidak tanggung-tanggung, Salsa berhasil mengawinkan prestasi akademik dan non-akademik dengan meraih Juara 1 Paralel di sekolah sekaligus Juara 1 Lomba Monolog pada Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS3N) tingkat Kabupaten Bojonegoro.
Keberhasilan ganda ini menjadi bukti sahih bahwa sebuah bakat yang dipeluk erat dan diasah dengan ketulusan mampu mendobrak sekat-sekat keterbatasan ruang. Namun, di balik riuh tepuk tangan panggung monolog dan deretan angka sempurna di lembar rapornya, Salsa tidak berjalan sendirian. Di belakangnya, berdiri tegak sebuah ekosistem asrama yang hangat, mulai dari lingkungan belajar yang merangkul, ketelatenan tanpa batas dari guru pendamping, hingga program pembinaan minat-bakat yang mengasah potensinya setiap hari.

Pencapaian Salsa adalah manifesto hidup dari keberhasilan Program Sekolah Rakyat yang diinisiasi oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia. Kehadiran SRMA 36 Bojonegoro sejatinya bukan sekadar tentang mendirikan bangunan fisik, melainkan sebuah aksi nyata untuk memberikan "panggung" bagi the invisible people, anak-anak dari keluarga kurang mampu yang selama ini kerap tak terlihat dan terabaikan dalam riuhnya kontestasi fasilitas pendidikan.
Melalui rumah belajar berasrama gratis ini, mereka tidak hanya diberi makan dan tempat tidur, melainkan jaminan hak yang setara, penempaan karakter yang humanis, serta ruang seluas-luasnya untuk membebaskan impian mereka bak burung yang terbang tinggi.

Kisah Salsa Nur Sabilla adalah potret tentang bagaimana sebuah kebijakan sosial yang humanis dan tepat sasaran mampu mengubah takdir sebuah generasi. Dari anak desa yang terpinggirkan, ia kini menjelma menjadi sosok remaja yang percaya diri, tangguh, dan menatap hari esok tanpa rasa takut.
Selamat dan sukses untuk Salsa Nur Sabilla. Getaran suara monologmu di tingkat kabupaten hari ini adalah pemantik api semangat untuk terus melangkah lebih jauh, membawa nama harum SRMA 36 Bojonegoro menuju panggung provinsi, nasional, hingga mengetuk pintu panggung internasional. [toa/mu]
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published