Membumikan Akhlak Nabi Muhammad SAW di Era Digital
Suprapto Estede

Oleh: Suprapto Estede*

blokBojonegoro.com - Setiap kali Maulid Nabi Muhammad SAW diperingati, kita kembali mengingat sosok manusia agung yang diutus Allah SWT sebagai uswah hasanah, teladan terbaik bagi kehidupan. Kita membaca sejarah perjuangannya, memperbanyak shalawat, mendengarkan kisah keluhuran budi pekertinya, dan mengungkapkan kecintaan kepada beliau. Namun, sejauh mana akhlak Nabi SAW benar-benar hadir dalam kehidupan kita hari ini?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika kehidupan manusia telah memasuki era digital. Teknologi telah mengubah cara kita bekerja, belajar, berkomunikasi, memperoleh informasi, bahkan membangun relasi sosial. Dalam hitungan detik, seseorang dapat menyampaikan pendapat kepada ribuan bahkan jutaan orang. Di ruang digital, kata-kata dapat menyebar jauh lebih cepat daripada kemampuan kita untuk menariknya kembali.

Di sinilah keteladanan Nabi SAW memperoleh relevansinya.

Al-Qur'an menggambarkan beliau dengan ungkapan yang sangat agung: “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur” (QS. Al-Qalam: 4). Ayat ini menunjukkan bahwa keagungan Rasulullah SAW bukan semata-mata terletak pada mukjizat dan kedudukannya sebagai utusan Allah, melainkan juga pada akhlak yang beliau hadirkan dalam kehidupan nyata. Karena itu, mencintai Nabi SAW semestinya tidak berhenti pada seremonial Maulid. Kecintaan itu perlu diterjemahkan menjadi perilaku.

Di ruang digital, misalnya, akhlak Nabi SAW dapat kita hadirkan melalui cara kita berbicara. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa seorang Muslim hendaknya berkata yang baik atau diam. Prinsip sederhana ini justru semakin bernilai ketika media sosial memberi setiap orang kesempatan berbicara tanpa batas.

Sebelum menekan tombol kirim, barangkali kita perlu bertanya: apakah tulisan ini benar? Apakah bermanfaat? Apakah dapat menyakiti orang lain? Apakah saya rela jika kalimat ini dibaca kembali oleh keluarga, anak-anak, atau orang-orang yang saya hormati? Pertanyaan-pertanyaan sederhana semacam ini merupakan bentuk tabayyun dan pengendalian diri yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan digital.

Akhlak Nabi SAW juga mengajarkan kejujuran. Di tengah derasnya informasi, kita menghadapi persoalan hoaks, manipulasi informasi, judul yang menyesatkan, dan berbagai bentuk provokasi. Kemampuan menggunakan teknologi semestinya berjalan bersama dengan tanggung jawab moral. Jangan sampai kecanggihan teknologi justru membuat manusia semakin mudah menyebarkan kebohongan.

Allah SWT telah mengingatkan: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya...” (QS. Al-Hujurat: 6).

Demikian pula dengan sikap terhadap orang yang berbeda. Ruang digital kerap menjadi tempat bertemunya berbagai pandangan, pilihan, latar belakang, dan kepentingan. Perbedaan pendapat mudah berubah menjadi pertengkaran, bahkan penghinaan.

Padahal Rasulullah SAW menunjukkan bahwa dakwah dan komunikasi harus dibangun dengan kelembutan, kebijaksanaan, dan penghormatan terhadap manusia. Akhlak bukan berarti kita harus selalu sepakat dengan orang lain. Akhlak berarti kita mampu berbeda tanpa kehilangan adab.

Lebih jauh lagi, akhlak Nabi SAW mengajarkan kepedulian. Jangan sampai dunia digital membuat kita merasa dekat dengan ribuan orang di layar, tetapi jauh dari tetangga yang membutuhkan pertolongan. Jangan sampai kita begitu rajin membagikan kutipan tentang kebaikan, namun lupa melakukan kebaikan yang nyata.

Di sinilah makna membumikan akhlak menjadi penting. Akhlak bukan sekadar pengetahuan tentang mana yang baik dan buruk. Akhlak adalah kebaikan yang turun dari pikiran ke hati, dari hati ke perkataan, dan dari perkataan ke perbuatan.

Maulid Nabi dengan demikian dapat menjadi momentum untuk melakukan refleksi. Selain berapa banyak shalawat yang telah kita lantunkan, kita juga perlu bertanya: sudahkah kehadiran kita membuat orang lain merasa aman? Sudahkah media sosial kita menjadi ruang yang menebarkan manfaat? Sudahkah kita mampu menahan diri dari menyebarkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya?

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad).

Pesan ini terasa semakin kuat di zaman ketika manusia memiliki teknologi yang luar biasa, tetapi tetap menghadapi persoalan klasik seperti: keserakahan, kebencian, kesombongan, fitnah, dan permusuhan.

Teknologi boleh terus berkembang. Kecerdasan buatan boleh semakin canggih. Media sosial boleh semakin luas. Namun, manusia tetap membutuhkan akhlak. Maka, memperingati Maulid Nabi SAW seyogianya menjadi momentum untuk menghadirkan kembali akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di ruang digital. Sebab, ukuran kecintaan kepada Rasulullah SAW yang semakin relevan di era sekarang di samping seberapa sering nama beliau kita sebut, adalah juga seberapa jauh akhlaknya tercermin dalam diri kita.

Membumikan akhlak Nabi SAW berarti menghadirkan keteladanan beliau di tengah kehidupan nyata: dalam keluarga, masyarakat, pekerjaan, dan kini juga dalam setiap jejak yang kita tinggalkan di dunia digital. [mu]

*Dosen STIEKIA