20:00 . Farel Prayoga Goyangkan Istana Merdeka Dalam Perayaan HUT ke-77 RI   |   19:00 . Grebek Tumpeng Rombyong Mliwis Putih, dari Warga untuk Generasi Muda   |   18:00 . Upacara HUT RI ke-77, Kajari: Pakai Adat Madura Karena Saya Asli Madura   |   17:00 . Ketua DPRD Bojonegoro Kenakan Baju Adat Nias Saat Upacara HUT Kemerdekaan   |   16:00 . PPPM Birrul Walidain: Perayaan HUT RI Kewajiban Sebagai Warga Negara Indonesia   |   15:00 . Inilah Nama-nama Penerima Penghargaan HUT Kemerdekaan RI di Bojonegoro   |   13:00 . HUT Kemerdekaan RI, Buah Lokal Bojonegoro Dipamerkan di Gedung Grahadi   |   12:00 . 15 Pemain Lolos Seleksi Persibo, Hanya Empat Pemain Lokal   |   09:00 . Mengisi Kemerdekaan   |   09:00 . 262 WBP Dapat Remisi Kemerdekaan, 2 Langsung Bebas   |   22:00 . Semarak Kemerdekaan, KKN-T Unigoro Adakan Pemeran UMKM   |   21:00 . Malam HUT RI KE-77 PonPes Al Mubarok Gelar Malam Tirakatan   |   20:00 . Penuh Tantangan, Jambore Cabang XII Bojonegoro Berakhir Membanggakan   |   17:00 . Macet, Buka dan Tutup Jalan Nasional   |   16:00 . Proyek JTB Berhasil Lakukan Proses Gas-In   |  
Thu, 18 August 2022
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Menjadi Politisi, Antara Ambisi dan Penyakit Mental

blokbojonegoro.com | Sunday, 09 January 2022 07:00

Menjadi Politisi, Antara Ambisi dan Penyakit Mental

 

Reporter: --

blokbojonegoro.com - Masyarakat tentu sudah akrab dengan tingkah laku politisi yang haus kekuasaan. Psikiater Dame Jane Roberts dalam bukunya Losing Political Office mengatakan, tak mudah bagi politisi untuk kehilangan kekuasaan. Kalah, mundur, dan tak lagi berkuasa bagi politisi sama dengan kehilangan identitas yang bisa menyebabkan gangguan mental.

Roberts yang mengutip kalimat Sigmon Freud mengatakan, kuasa bagi politisi adalah ide atau objek yang harus diperjuangkan dengan sepenuh hati. Selain kerja keras, politisi harus melakukan pengorbanan termasuk dalam kehidupan pribadi demi ambisi. Dengan banyaknya pengorbanan yang harus diberikan, tak heran bila politisi terkena depresi saat kehilangan kekuasaan.

"Bagi politisi harus angkat kaki dari pusat kekuasaan seperti peringatan duka, namun tidak ada yang meninggal atau penguburan. Hal ini diperparah dengan tidak ada pengakuan atau ucapan terima kasih dari partai pengusung. Mereka yang kalah dalam pemilihan atau mundur akan dilupakan begitu saja," kata Roberts.

Politisi juga harus menanggung malu saat kembali ke lingkungan masyarakat. Terlepas dari motif angkat kaki dari pusaran kekuasaan, masyarakat akan melabeli mereka sebagai politisi gagal. Hal ini akan mempengaruhi kehidupan pribadi politisi yang merasa dunianya hancur. Tak heran bila politisi menolak bertemu dengan masyarakat, misal dengan mengunci diri, karena minimnya kesiapan mental selepas tidak lagi menjadi pejabat.

Menurut Roberts, risiko mengalami gangguan mental mengintai siapa saja yang hendak terjun ke dunia politik. Tekanan dan ambisi menyebabkan politisi tak punya jalan lain kecuali memenuhi tuntutan tersebut. Hari Kesehatan Jiwa yang diperingati setiap tanggal 10 Oktober menjadi pengingat pentingnya kesiapan bagi calon politisi jika tak ingin kelak mengalami depresi. [lis]

Sumber: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4250936/menjadi-politisi-antara-ambisi-dan-penyakit-mental

Tag : Penyakit, mental, politisi



* Ingin Beli / Transaksi, Klik di Bawah Ini

Logo WA Logo Telp Logo Blokbeli

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

Lowongan Kerja & Iklan Hemat