Reporter: Rizki Nur Diansyah
blokBojonegoro.com – Kasus keracunan makanan pada pelaksanaan Program Makan Bergizi (MBG) di sejumlah daerah mulai memicu kekhawatiran wali murid di Kabupaten Bojonegoro.
Sebagian orang tua bahkan memilih melarang anak mereka mengonsumsi makanan MBG yang dibagikan di sekolah. Kekhawatiran tersebut muncul karena orang tua menilai perlindungan dan mekanisme penanganan apabila terjadi keracunan masih belum memberikan rasa aman.
Salah satunya disampaikan Himma, wali murid salah satu sekolah dasar negeri di Kecamatan Kota Bojonegoro. Ia mengaku khawatir setelah mengikuti pemberitaan mengenai puluhan pelajar di Sidoarjo dan sejumlah daerah lain yang mengalami keracunan usai mengonsumsi makanan MBG.
Himma pun memilih meminta anaknya membawa pulang makanan MBG yang diterima dari sekolah. Makanan tersebut kemudian diperiksa terlebih dahulu sebelum dikonsumsi.
"Setiap hari menu MBG yang diberikan di sekolah selalu dibawa pulang. Sebelum dimakan anak saya, pasti saya cek dulu untuk menjaga agar anak saya tidak keracunan," ungkap Himma, Jumat (11/9/2026).
Menurutnya, kekhawatiran tersebut semakin kuat setelah mengetahui penanganan terhadap dapur penyedia MBG yang dikaitkan dengan kasus keracunan di Sidoarjo. Ia mempertanyakan langkah lanjutan apabila kelalaian dalam penyediaan makanan sampai menyebabkan banyak anak mengalami keracunan.
"Kalau hanya ditutup seperti itu, lantas bagaimana ke depannya? Itu kan meracuni banyak anak. Di kondangan saja kalau makanan yang disediakan membuat tamu undangan keracunan, pasti pemilik rumah diperiksa polisi. Tapi MBG kok berbeda. Jadi wajar kalau saya melarang anak saya memakan MBG," tegasnya.
Sikap tersebut, lanjut Himma, bukan berarti menolak program MBG. Ia justru meminta pemerintah memastikan makanan yang diberikan kepada anak-anak benar-benar aman untuk dikonsumsi.
Menurutnya, pengawasan terhadap proses penyediaan hingga distribusi makanan perlu diperketat. Selain itu, mekanisme pertanggungjawaban juga harus jelas apabila nantinya ditemukan persoalan yang menyebabkan anak-anak mengalami keracunan.
"Jangan sampai program yang sebenarnya bagus justru membuat orang tua khawatir. Kami hanya ingin anak-anak mendapatkan makanan yang bergizi sekaligus aman," imbuhnya.
Sementara itu, berdasarkan data yang tercantum di laman resmi Badan Gizi Nasional (BGN), terdapat 144 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tercatat di Kabupaten Bojonegoro.
SPPG tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan program MBG yang menyasar peserta didik, ibu hamil, dan menyusui di berbagai wilayah Kabupaten Bojonegoro.
Dari jumlah tersebut, Kecamatan Margomulyo yang berada di wilayah paling barat Kabupaten Bojonegoro menjadi satu-satunya kecamatan yang disebut belum memiliki SPPG.
Sementara itu, berdasarkan penelusuran sejumlah kejadian sejak September 2025 hingga April 2026, terdapat beberapa kasus keracunan MBG yang dilaporkan terjadi di sejumlah sekolah dan wilayah di Kabupaten Bojonegoro.
Kasus pertama terjadi pada 24 September 2025. Sebanyak tujuh siswa SDN Semanding dilaporkan mengalami keluhan seperti mual, pusing dan sakit perut setelah mengonsumsi makanan MBG. Empat siswa sempat dibawa ke IGD RSUD Sosodoro Djatikoesoemo, sedangkan tiga lainnya mendapat penanganan di puskesmas.
Sehari setelahnya, pada 25 September 2025, sebanyak 150 siswa SMPN 2 Balen dilaporkan mengalami sakit perut dan tidak masuk sekolah setelah mengonsumsi makanan MBG. Namun, kejadian tersebut masih dikategorikan sebagai dugaan dan belum dapat dipastikan seluruh keluhan disebabkan oleh makanan MBG.
Kasus dengan jumlah siswa terdampak lebih besar kemudian terjadi di Kecamatan Kedungadem pada awal Oktober 2025.
Pada 1 Oktober 2025, sebanyak 544 siswa SMAN 1 Kedungadem dilaporkan mengalami sejumlah keluhan setelah menyantap menu MBG. Keluhan yang muncul antara lain mual, pusing, sakit perut hingga diare.
Kasus tersebut kemudian diikuti laporan dari sekolah lain yang menerima makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Kedungadem.
Pada 2 Oktober 2025, sejumlah siswa SDN Tumbrasanom mengalami keluhan kesehatan. Laporan awal menyebut tujuh siswa terdampak, sementara data lainnya mencatat empat siswa mendapat penanganan.
Pada hari yang sama, siswa MTs Plus Nabawi juga dilaporkan mengalami keluhan serupa. Jumlah siswa yang dilaporkan terdampak sekitar lima hingga enam orang.
Rangkaian kejadian di Kedungadem menjadi salah satu kasus yang mendapat perhatian karena hasil pemeriksaan laboratorium kemudian menemukan adanya bakteri Escherichia coli (E-Coli) pada sampel makanan dari dua SPPG yang memasok makanan ke sekolah-sekolah tersebut.
Kasus serupa kembali dilaporkan pada 28 November 2025. Puluhan siswa di lingkungan MAN 1 dan MAN 2/Pondok Pesantren Al-Falah, Desa Pacul, Kabupaten Bojonegoro, mengalami keluhan sakit perut dan diare. Sekitar 30 siswa dilaporkan terdampak dan 18 di antaranya sempat mendapat penanganan di IGD.
Memasuki 2026, kejadian kembali dilaporkan di Desa Tikusan, Kecamatan Kapas, pada 15–16 April 2026.
Sebanyak 17 penerima manfaat dilaporkan mengalami keluhan setelah menyantap menu MBG yang berasal dari SPPG Plesungan 2. Mereka terdiri dari sembilan siswa sekolah dasar, empat anak TK/Posyandu dan empat ibu hamil. [riz/mad]