20:00 . Farel Prayoga Goyangkan Istana Merdeka Dalam Perayaan HUT ke-77 RI   |   19:00 . Grebek Tumpeng Rombyong Mliwis Putih, dari Warga untuk Generasi Muda   |   18:00 . Upacara HUT RI ke-77, Kajari: Pakai Adat Madura Karena Saya Asli Madura   |   17:00 . Ketua DPRD Bojonegoro Kenakan Baju Adat Nias Saat Upacara HUT Kemerdekaan   |   16:00 . PPPM Birrul Walidain: Perayaan HUT RI Kewajiban Sebagai Warga Negara Indonesia   |   15:00 . Inilah Nama-nama Penerima Penghargaan HUT Kemerdekaan RI di Bojonegoro   |   13:00 . HUT Kemerdekaan RI, Buah Lokal Bojonegoro Dipamerkan di Gedung Grahadi   |   12:00 . 15 Pemain Lolos Seleksi Persibo, Hanya Empat Pemain Lokal   |   09:00 . Mengisi Kemerdekaan   |   09:00 . 262 WBP Dapat Remisi Kemerdekaan, 2 Langsung Bebas   |   22:00 . Semarak Kemerdekaan, KKN-T Unigoro Adakan Pemeran UMKM   |   21:00 . Malam HUT RI KE-77 PonPes Al Mubarok Gelar Malam Tirakatan   |   20:00 . Penuh Tantangan, Jambore Cabang XII Bojonegoro Berakhir Membanggakan   |   17:00 . Macet, Buka dan Tutup Jalan Nasional   |   16:00 . Proyek JTB Berhasil Lakukan Proses Gas-In   |  
Thu, 18 August 2022
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Sejarah Tokoh

Wahid Hasyim, Menteri Agama Pertama dan Termuda

blokbojonegoro.com | Monday, 29 November 2021 20:30

Wahid Hasyim, Menteri Agama Pertama dan Termuda Ilustrasi; faktanews.com

 

Oleh: Nidlomatum MR

blokbojonegoro.com - Kiai Haji Abdul Wahid Hasjim lahir di Jombang, Jawa Timur, 1 Juni 1914. Ia adalah ayah dari Presiden Indonesia keempat, Abdurrahman Wahid dan Menteri Agama Pertama di Indonesia. Kiai Wahid Hasyim merupakan anak kelima dari Pasangan Kiai Hasyim Asy'ari dan Nyai Nafiqah.

Sebagai putra bangsa, Wahid Hasyim adalah salah satu putra yang turut mengukir sejarah negeri ini pada masa awal kemerdekaan Republik Indonesia. Anak laki-laki pertama dari sepuluh bersaudara ini lahir pada Jumat Legi, 5 Rabi’ul Awal 1333 Hijriyah atau 1 Juni 1914, Wahid mengawali kiprah kemasyarakatannya pada usia relatif muda.

Setelah menimba ilmu agama ke berbagai pondok pesantren di Jawa Timur dan Mekah, pada usia 21 tahun Wahid membuat “gebrakan” baru dalam dunia. Bagaimana tidak, selain sebagai Menteri Agama Indonesia pertama, Wahid Hasyim juga menteri termuda serta menjabat sebagai menteri agama selama tiga kali kabinet, yakni Kabinet Hatta, Kabinet Nassir dan Kabinet Sukirman.

Wahid Hasyim dikenal dengan kecerdasannya. Sejak kecil dia sudah bisa baca Alquran dan bisa menghafal mengkhatamkan Alquran saat berumur tujuh tahun. Bahkan, mulai umur 12 tahun dia sudah berani mengajar di pesantrennya.

Dengan semangat memajukan pesantren, Wahid memadukan pola pengajaran pesantren yang menitikberatkan pada ajaran agama dengan pelajaran ilmu umum.Sistem klasikal diubah menjadi sistem tutorial. Selain pelajaran Bahasa Arab, murid juga diajari Bahasa Inggris dan Belanda dengan madrasah yang dikenal dengan nama Madrasah Nidzamiyah.

Pengetahuan dalam Bahasa Inggris dipelajari oleh Wahid Hasyim secara otodidak. Sebab, kala itu keseluruhan pendidikan Wahid dijalani di pesantren tanpa mengikuti sekolah umum Hindia Belanda.

Meski masih muda, karier politiknya terus menanjak dengan cepat. Mulai dari Ketua PBNU, anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), hingga Menteri Agama pada tiga kabinet. Intinya, banyak kontribusi penting yang diberikan Wahid bagi agama dan bangsa.

Salah satunya tentang rumusan Pancasila "Ketuhanan Yang Maha Esa", sil ini bisa disepakati tidak terlepas dari peran seorang Wahid Hasyim. Wahid dikenal sebagai tokoh yang moderat, substantif, dan inklusif.

Saat menjabat sebagai Menteri Agama, dia kalut dengan keadaan umat Islam kala itu. Sebab, sebagai umat Islam mereka dinilai "manja" dan kurang mandiri. Pasalnya, mereka cenderung mengandalkan "upeti" dari para pejabat Islam terutama masalah materi. Hal ini dirasa bisa menjadi bagian penurunan semangat untuk maju dan kemandirian umat.

Karena itu, dia berharap kepada umat Islam agar bersemangat untuk berusaha sehingga tidak hanya mengandalkan bantuan dari pejabat. Jika hal ini terus saja dibiarkan, maka akibatnya akan menyentuh ranah moral dan mental yang sulit diperbaiki.

Di sisi lain, dia pun dilema dengan posisinya kala itu. Sebab, di satu sisi dia khawatir dengan degradasi kepercayaan diri, namun di sisi lain memang disadari umat Islam membutuhkan bantuan.

Sehubungan dengan masalah ini Wahid Hasyim pun sempat berdikusi dengan KH Syaifudin Zuhri berharap mendapat solusi. Hasilnya, untuk masalah ini memang berat karena bersifat dilematis di antara dua pilihan, yang pasti Wahid Hasyim tak ingin umat Islam menjadi agama yang manja dan tidak percaya diri.

Namun, harapan-harapan itu sulit diwujudkan dengan waktu singkat. Apalagi, hidup Wahid Hasyim tergolong singkat, suami dari Sholihah al-Mumawaroh putri Kiai Bisri Syansuri ini wafat di Jawa Barat, 19 April 1953 pada umur 38 tahun dan dimakamkan di Tebuireng, Jombang.

Wahid Hasyim dengan segudang pemikiran tentang agama, negara, pendidikan, politik, kemasyarakatan, NU, dan pesantren, telah menjadi lapisan sejarah ke-Islaman dan ke-Indonesiaan yang tidak dapat tergantikan oleh siapapun. [lis]

Tag : Profil, tokoh, sejarah



* Ingin Beli / Transaksi, Klik di Bawah Ini

Logo WA Logo Telp Logo Blokbeli

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

Lowongan Kerja & Iklan Hemat